"Dengan begitu, data yang dihasilkan memiliki tingkat akurasi yang tinggi, sehingga dapat memperkuat antisipasi dan tindakan dini dalam mencegah dampak bencana alam akibat siklon tropis," imbuhnya.
Dwikorita mengatakan, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan di bidang prediksi siklon tropis dan peringatan dini diharapkan dapat banyak membantu dalam mengurangi resiko dampak siklon tropis.
Namun demikian, tambah dia, penerapan teknologi baru ini dalam operasi siklon tropis tentunya harus dilaksanakan secara matang dan lebih berkeadilan, mengingat potensi peningkatan kejadian siklon tropis relatif menunjukkan peningkatan baik dari segi frekuensi kejadian maupun intensitasnya secara relatif.
"Frekuensi kejadian dan intensitas terjadinya siklon tropis semakin meningkat. Situasi ini juga didorong oleh laju pemanasan global yang juga cukup kencang. Realitas ini harus menjadi perhatian bersama seluruh komunitas internasional," ujarnya.
Baca Juga: Update: Gempa Landa Sukabumi, Terasa hingga Cianjur, Bogor, Bandung dan Jakarta
Dwikorita berharap, ajang IWTC (International Workshop on Tropical Cyclones) yang digagas sejak awal tahun 1980-an tersebut mampu menjadi jembatan komunikasi, kerjasama dan kolaborasi antar negara dalam penguatan sistem peringatan dini siklon tropis.
"Kita harus bekerja sama. Indonesia sendiri bukan merupakan daerah lintasan siklon tropis, namun demikian keberadaan siklon tropis di sekitar Indonesia, terutama yang terbentuk di sekitar Pasifik Barat Laut, Samudra Hindia Tenggara dan sekitar Australia akan mempengaruhi pembentukan pola cuaca di Indonesia," tuturnya.
"Dari teori terdahulu yang dipahami selama ini, siklon tropis tidak dapat tumbuh di daerah lintang rendah (tropis), namun saat ini kita melihat bahwa makin banyak siklon tropis yang tumbuh di sekitar wilayah tropis," tandasnya.