JOURNALNUSANTARA.COM, JAKARTA - Pengurus Pusat Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia menyampaikan rasa belasungkawa yang sangat mendalam atas musibah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang menggoncang Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Peristiwa alam tersebut mengakibatkan kerugian yang amat besar bagi warga setempat, mulai dari hancurnya tempat tinggal, terputusnya akses transportasi, hingga munculnya trauma psikologis yang membendung di tengah masyarakat.
Organisasi profesi ini menilai peristiwa ini bukan sekadar deretan angka statistik belaka, melainkan sebuah krisis kemanusiaan nyata yang membutuhkan perhatian mendesak.
Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan menegaskan bahwa empati seluruh komponen bangsa harus diwujudkan dalam aksi nyata di lapangan.
Menurutnya, kepedulian tidak boleh berhenti pada ucapan duka di media sosial saja.
"Negara dan seluruh elemen bangsa harus hadir secara masif dan cepat agar warga di Sikka tidak dibiarkan berjuang sendirian di tengah puing-puing bangunan," ujarnya, Sabtu (15/8/2026).
Merangsang respons atas situasi darurat ini, IJTI mengeluarkan lima poin sikap tegas. Organisasi ini mendesak pemerintah beserta masyarakat bergerak cepat dan terintegrasi, serta meminta ruang redaksi televisi tidak sekadar mengeksploitasi aspek visual kerusakan.
Media diimbau aktif menyuarakan kebutuhan korban yang belum terjangkau bantuan, mengawal transparansi penyaluran logistik, dan memastikan penanganan darurat terbebas dari jeratan birokrasi yang rumit.
Para jurnalis di lapangan pun diminta berdiri di barisan terdepan menembus isolasi wilayah sambil tetap memprioritaskan keselamatan jiwa.
Di samping itu, IJTI mewanti-wanti media agar menghindari praktik jurnalisme sensasional seperti tayangan histeria korban demi mengejar jumlah penonton.
Masyarakat juga diimbau mewaspadai maraknya hoaks serta kabar simpang siur yang sering kali sengaja disebarkan saat krisis.
Herik Kurniawan menyebutkan bahwa menyebarkan hoaks dan spekulasi liar di tengah situasi krisis adalah bentuk kejahatan kemanusiaan karena merenggut rasa aman warga yang sedang ketakutan.
Oleh sebab itu, meja redaksi diminta menerapkan verifikasi berlapis dan warga dianjurkan menyaring berita dari sumber resmi seperti BMKG, BNPB, maupun lembaga terpercaya.