Gerakan tersebut membutuhkan cara berpikir yang tidak terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi juga tidak kehilangan akar nilai. Tradisi intelektual HMI-Wati harus dipertemukan dengan tuntutan zaman: transformasi digital, kecerdasan artifisial, ekonomi kreatif, kepemimpinan publik, perubahan demografi, ketahanan keluarga, serta tantangan ekologis dan sosial.
Terpilihnya lima Presidium MW FORHATI Jawa Bara periode 2026-2031 diharapkan melahirkan satu arah perubahan. Dengan komposisi presidium yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat, kepemimpinan MW FORHATI periode 2026–2031 memiliki peluang untuk memperkuat konektivitas jaringan perempuan alumni HMI secara lebih luas.
Dr. Hj. Teti Ratnasih, M.Ag. sebagai Koordinator Presidium bersama Dr. Hj. Mela Rusdiana, M.Pd.I., Hj. Retno Ernawati, S.Sos., MM., Sri Wulan, M.Pd., dan Dr. Hj. Thoriqoh Nashrullah Fitriyah, S.T., M.E.Sy. diharapkan mampu mengonsolidasikan keberagaman potensi tersebut menjadi energi bersama.
Kepemimpinan lima presidium ini juga diharapkan mampu menghadirkan pola organisasi yang lebih kolaboratif, adaptif, dan berbasis pengetahuan. FORHATI tidak cukup hanya menjadi pengelola agenda organisasi, tetapi harus menjadi laboratorium gagasan dan gerakan perempuan yang mampu membaca masa depan.
Dengan demikian, keberadaan FORHATI menjadi relevan bukan hanya bagi alumni HMI-Wati, tetapi juga bagi masyarakat Jawa Barat secara keseluruhan.
Masa depan Jawa Barat membutuhkan perempuan yang berilmu, berintegritas, mandiri, inklusif, dan berani mengambil peran di ruang publik. Di titik itulah FORHATI dapat memainkan perannya, yakni: merawat nilai, menguatkan perempuan, menggerakkan keumatan, dan membangun peradaban.
Terpilihnya Presidium MW FORHATI Jawa Barat periode 2026–2031 diharapkan menjadi awal dari fase baru gerakan perempuan alumni HMI Wati, sebuah gerakan yang dirancang secara strategis, cerdas, kolaboratif, dan transformatif menuju cita-cita besar "Jawa Barat Istimewa".