JOURNALNUSANTARA.COM, PURWAKARTA - Indonesia masih bergulat dengan persoalan lingkungan yang kompleks. Sistem pengelolaan sampah yang belum berkelanjutan, pola pembuangan yang tidak terintegrasi, serta gaya hidup masyarakat yang kurang ramah lingkungan menjadi akar dari berbagai bentuk pencemaran.
Keresahan inilah yang menggugah hati seorang pemuda lulusan terbaik Jurusan Pengembangan Masyarakat UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Tanissa Puti Rahmadiva, untuk mengambil peran nyata, bukan sekadar mengkritik, tetapi menghadirkan solusi.
Berangkat dari daerah tempat tinggalnya, Tanissa telah lebih dari empat tahun mengabdikan diri memberdayakan masyarakat di sekitar Waduk Jatiluhur, wilayah yang menjadi bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, salah satu sungai dengan tingkat pencemaran tertinggi di Indonesia.
Dampak pencemaran tersebut memicu pertumbuhan eceng gondok secara masif hingga menutup perairan Waduk Jatiluhur, menghambat mobilitas warga, merusak ekosistem perikanan, dan mengancam sumber penghidupan masyarakat sekitar.
Alih-alih memandang eceng gondok sebagai masalah semata, Tanissa melihatnya sebagai potensi. Dari sanalah lahir Bumi Kreasi Jatiluhur, sebuah inisiatif social enterprise yang mentransformasi eceng gondok menjadi kerajinan bernilai ekonomi.
Inisiatif ini berhasil memberdayakan lebih dari 20 pengrajin aktif yang mayoritas ibu rumah tangga, serta melatih sekitar 500 orang setiap tahunnya untuk meningkatkan keterampilan menganyam di berbagai daerah hingga ke Danau Sentani, Papua.
Tidak hanya itu, Bumi Kreasi turut berkontribusi dalam meminimalkan penyebaran eceng gondok di waduk.
Sebelumnya, penanganan eceng gondok mengandalkan alat berat dengan biaya hingga miliaran rupiah per tahun.
Kini, pendekatan tersebut bertransformasi menjadi ekosistem berbasis kesadaran masyarakat. Warga secara sukarela mengambil eceng gondok, tidak hanya sebagai pengrajin, tetapi juga sebagai pengepul bahan baku kering yang siap dianyam dan diperjualbelikan.
Produk-produk Bumi Kreasi bahkan telah menembus pasar ekspor. Upaya ini secara nyata berkontribusi pada pencapaian SDGs, khususnya pada poin Climate Action, Gender Equality, dan Economic Growth.
Tahun 2024 menjadi tonggak sejarah penting bagi Bumi Kreasi Jatiluhur. Inisiatif ini dianugerahi penghargaan “The Most Social Impact” oleh UNDP (United Nations Development Programme) Indonesia, yang diserahkan langsung oleh Sujala Pant, Deputy Resident Representative UNDP Indonesia.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas dampak sosial dan lingkungan yang telah dihasilkan, sekaligus suntikan semangat untuk terus berkontribusi mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Namun, bagi Tanissa, capaian tersebut bukanlah akhir. Ia menyadari bahwa dampak yang lebih besar membutuhkan pengembangan kapasitas yang berkelanjutan.
Selain mengelola bisnis sosial, Tanissa aktif menyebarkan kesadaran lingkungan melalui seminar dan webinar sebagai pembicara. Untuk memperkuat perannya, ia mengikuti Training of Trainer (ToT) Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat bidang Produktivitas.
Menjadi peserta termuda berusia 24 tahun di lembaga sertifikasi tersebut tidak menyurutkan langkahnya. Justru, tanggung jawab sosial terhadap daerahnya menjadi pendorong utama. Pada 30 Juli 2025, Tanissa dinyatakan kompeten sebagai Instruktur Level-4 BNSP RI oleh asesor.
Dengan visi “Memberdayakan Masyarakat dan Menyelamatkan Bumi”, komitmen Tanissa selalu ia bawa ke mana pun melangkah, dengan tujuan akhir kembali membangun daerahnya.
"Saya yakin dan percaya bahwa dibutuhkan studi dan inovasi lanjutan untuk mereplikasi dan mengembangkan konsep transformasi limbah menjadi produk bernilai melalui pendekatan zero waste dan eco-friendly," ujarnya, Senin (26/1/2026).
Atas konsistensinya dalam pengabdian, Tanissa juga tercatat dalam buku “Dangerous Human” karya Diaz Hendropriyono, Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI, sebagai salah satu ecopreneur inspiratif. Buku tersebut menyoroti sistem kehidupan berkelanjutan serta solusi konkret atas persoalan lingkungan.
Ketertarikannya pada isu keberlanjutan juga mengantarkannya menjadi salah satu partner UN Global Compact Indonesia, aktif dalam berbagai inisiatif pembangunan perusahaan berkelanjutan, termasuk di sektor perairan.
Harapannya sederhana namun bermakna: apa yang ia lakukan hari ini dapat menjadi bagian dari solusi Indonesia dalam menghadapi tantangan lingkungan melalui kreativitas, inovasi, dan keberpihakan pada masyarakat yang berkelanjutan.