JournalNUsantara.com - Pasca di tengah bencana banjir yang melanda Aceh, Nasib Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berubah menjadi bantuan darurat.
Dapur-dapur MBG (SPPG) dialihkan fungsinya untuk memasak dan menyalurkan ratusan ribu paket makanan bergizi ke pengungsi dan korban bencana.
Kini bukan siswa sekolah lagi, meskipun ada kendala seperti akses terbatas, kelangkaan bahan baku, dan listrik, namun program terus berjalan dengan adaptasi menu dan menjadi posko pengungsian sementara untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi dasar di wilayah terdampak.
Baca Juga: Barisan Pelajar SD Saat Upacara Diseruduk Mobil MBG, 21 Korban Masuk Rumah Sakit
Aksi dan Adaptasi MBG:
Pengalihan Fungsi: Dapur-dapur MBG (SPPG) yang semula melayani sekolah dialihkan untuk melayani korban banjir, menyediakan makanan bergizi bagi warga yang mengungsi.
Jumlah Bantuan: Ratusan ribu paket MBG telah disalurkan ke berbagai kabupaten/kota yang terdampak seperti Bireun, Aceh Utara, Aceh Tengah, dll..
Menjadi Posko Darurat: Beberapa dapur MBG bahkan dijadikan posko pengungsian sementara.
Menu Darurat: SPPG beradaptasi dengan menu darurat dan menggunakan sumber daya yang ada untuk terus menyalurkan bantuan.
Baca Juga: Barisan Pelajar SD Saat Upacara Diseruduk Mobil MBG, 21 Korban Masuk Rumah Sakit
Tantangan yang Dihadapi:
Akses dan Logistik: Beberapa wilayah sulit dijangkau karena jaringan terputus, menyebabkan sebagian bantuan belum tersalurkan.
Kelangkaan: Terdapat kelangkaan bahan baku, listrik, air bersih, dan gas yang menghambat operasional SPPG di beberapa lokasi.
Respons Pemerintah & Badan Gizi Nasional (BGN):