Dalam khotbahnya, Tata Sukayat menyatakan solusi menghadapi kesulitan ekonomi secara spiritual adalah dengan gerakan "kuru cileuh (tahajud) dan kentel peujit (puasa)".
Baca Juga: Mutiara Pagi: Setelah Maaf Terucap (Bagian 1798)
"Alhamdulillah, solusi secara struktural dari Pemerintah, Presiden Prabowo telah mengeluarkan kebijakan strategis berupa efesiensi atau kebijakan “ngeureut nendeun” dalam Falsafah Sunda, yang diikuti dengan Gerakan nyata Gubernur Jawa Barat yaitu leuweung kudu awian, lengkob kudu balongan, dan lebak kudu sawahan. Karena ketahanan pangan yang sesungguhnya adalah berdamai dan bekerjasama dengan alam." tegasnya.
Nampak jelas sinergitas antara ulama dan umara di Tatar Pasundan. Dalam hal ini Gubernur Jawa Barat KDM dan KH. Tata Sukayat memiliki kesepahaman bersama, sehingga cukup menjadi alasan Pemerintah Jawa Barat ke depan akan mampu menjawab ragam permasalahan yang ada.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, nampak pula sejumlah pejabat hadir, di antaranya Ketua DPRD Jabar Buky Wibawa, Kepala Kanwil Kemenag Jabar Ajam Mustajam, Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan, dan juga Sekda Jabar Herman Suryatman.
Selesai pelaksanaan shalat, Dedi Mulyadi menggelar silaturahmi dengan masyarakat hingga pukul 07.30 WIB. Segenap warga juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan langsung ucapan Idul Fitri kepada Gubernur pada acara open house di Gedung Pakuan, yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga tuntas pukul 10.00 WIB.
Dalam rangka memeriahkan "lebaran" tahun ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menggelar Festival Dulag Istimewa pada malam takbiran, Minggu (30/3/2025), di Gedung Pakuan, Kota Bandung. Sehingga kemeriahan nampak dimana-mana dan keceriaan warga Kota Bandung pun terpancar di setiap sudut kota. (Rimba Raya, dari berbagai sumber)