Oleh : Jacob Ereste
Pendek kata, cerita soal malu itu seperti saat ikut dalam tim pertandingan olah raga antar kampung. Terlanjur sudah menggunakan kostum kebanggaan tim asli dari kampung sendiri ini, lalu tak juga pernah mendapat kesempatan untuk ikut bermain. Rasa kecewanya mungkin tak separah rekayasa yang sudah bagus untuk ikut Pilpres atau sejenisnya yang urung ikut menjadi peserta.
Baca Juga: Kekecewaan Semasa Kecil Dahulu Hanya Karena Saya Tidak Bisa Ikut Bermain (Bag 1)
Mestinya, sudah pernah dijagokan jadi pemain utama itu, bolehlah dianggap cukup memperoleh pengalaman spiritual lantaran sudah pernah nyaris menjadi manusia maha penting dalam satu babak sejarah perjalanan bangsa yang besar bagi negeri ini.
Karena itu kiranya perlu nasehat yang bijak, janganlah pernah merasa sedih dan putus asa untuk terus meniti karier dengan baik dan tekun. Sebab di dunia ini tidak pernah ada yang enak rasanya jika diperoleh dengan yang gampang.
Baca Juga: Tidak Cukup Menjadi Orang Yang Baik
Sebab kegigihan itu sesungguhnya bagian dari bumbu penyedap, seperti memperoleh duit atas usaha yang baik dan halal. Jika tidak, mana mungkin akan lahir istilah duit hantu dimakan setan.
Seperti duit untuk membeli karcis bioskop yang sia-sia itu tadi -- atau tidak dapat ikut menjadi pemain dari sebuah pertandingan bagus bisa dikoreksi ulang.
Jangan-jangan duit yang sudah dihamburkan itu memang tidak halal. Arti tidak halal ini pun bisa dipahami dengan sebutan duit haram, yaitu duit yang tidak jelas asal usulnya. Padahal, asal mulanya toh, kita cuma pedagang es cendol atau cimol.
Baca Juga: Manfaat Buah Delima
Jadi kesabaran untuk lebih memperkaya diri bukan atas dasar karbitan karena sang wasit adalah Pakde kita hanya akan mengesankan keculasan. Apa salahnya sedikit lebih bersabar agar bisa lebih matang, seperti buah yang ranum pun belum masanya diunduh. Sebab, segala sesuatu yang dipaksakan itu pasti tidak baik, pasti tidak sempurna, persis seperti buah yang matang dikarbit.***