Barangkali kita pernah bertanya:
mengapa negeri yang begitu kaya
dengan gunung, laut, dan sawah,
masih banyak rakyat yang susah
Mengapa tanah yang subur
sering menjadi ladang air mata
Apakah karena kurang bersyukur
Ataukah hilangnya rasa setia
Pertanyaan-pertanyaan itu
Seperti asap yang tak kunjung sirna
Selalu ada dari waktu-waktu
Seperti debu melayang di udara
Menyusup ke dada para petani
yang membungkuk sejak pagi
ke dada para nelayan
yang berlayar dalam kegelapan
ke dada buruh dan pekerja harian
yang menanti upah di ujung bulan
Namun, di balik realiata yang ada
Ada sesuatu yang tak pernah padam: doa
yang lahir dari luka
yang tumbuh dari derita
doa rakyat yang tetap menyala
meski dunia terasa gelap gulita
Meski dapurnya berasap dari air mendidih,
tetap menengadahkan di malam sepi
Bukan hanya memohon untuk perut anaknya,
tetapi juga untuk negeri yang dicintainya
Hadir di setiap langkah,
di tengah hati yang gelisah,
di setiap tetes air mata
ada doa yang selalu menyala
Malang, 27 September 2025
Salam sehat,
M. Sinal