Ada satu kebiasaan
merasa berhak memutuskan
siapa yang pantas masuk surga
dan siapa yang harus ke neraka
Seolah-olah punya meteran spiritual
yang langsung dibeli dari langit
yang dihitung bukan kedalaman akal
tapi berapa kali orang datang ke masjid
Lupa menghitung sudah berapa kali
hatinya sendiri iri dan dengki
sehingga rajin sekali mengomentari
kekurangan orang lain tanpa ia sadari
Sibuk menakar dosa orang lain
Merasa dirinya suci lahir dan batin
Sampai tak terlihat bayangannya sendiri
Tertutup kesombongan yang ia miliki
Dalam pikiran mereka
merasa paling sempurna
meski kaca di rumahnya
sudah retak di mana-mana
Lupa, bahwa iman dan keyakinan
Urusan manusia dengan Tuhan
Bukan tindakan menghakimi
siapa yang sesat, siapa yang suci
Malang, 4 Januari 2026
Salam Sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Buah yang Bagus untuk Kulit
Soal Duel Persib vs Ratchaburi di Babak 16 Besar ACL Two, Hodak Singgung Tantangan Berat bagi Timnya
Pertumbuhan Ekonomi Cianjur dan Kopdeskel Merah Putih
Mutiara Pagi: Kita Hanya Musafir (Bagian 2078)
Berkarir dengan Iman
Gelaran Musyawarah Kubro untuk Memperkuat Soliditas Kader
Neza Dhania Bicara Digitalisasi UMKM sebagai Pilar Penggerak Ekonomi Kreatif dan Pariwisata
Mahasiswa Indonesia Sampaikan Pidato Kelulusan di Kampus Peringkat Satu Australia, Ini Sosok Tika Tazkya
Menuntut DPR Segera Mengesahkan Perppu Nomor 1 Tahun 2023 Terkait UU KUHP: Urgensi Koreksi Arah Reformasi Hukum Nasional
Bedah Buku 'Titik Balik': Refleksi Diri sebagai Awal Perjalanan Pendidikan dan Kepemimpinan