Kemerdekaan yang dibayar dengan darah
Yang dulu berwajah gagah
Kini tidak lagi indah
Seperti tertulis di buku sejarah
Di etalase pasar kekuasaan
Kemerdekaan dibungkus rapi
Pita merah putih sebagai hiasan
Tapi isinya janji yang tak ditepati
Di tangan generasi pewaris
Harga kemerdekaan turun drastis:
Satu potong kemerdekaan
Untuk izin menebang hutan
Dua potong kemerdekaan
Menutup mata atas ketidakadilan
Rakyat hanya menjadi penonton
Dengan tepuk tangan yang dibeli kiloan
Penderitaan mereka dijadikan alasan
Hanya semata-mata menaikkan anggaran
Yang mau hak rakyat
Beli satu, gratis dua
Yang penting ada kata sepakat
Dan bisa dibayar kapan saja
Kemerdekaan bukan lagi hak segala bangsa
Tapi sarana bagi mereka yang serakah
Di bibir terucap cita-cita kemerdekaan
Namun di hati hanya ada kalkulator keuntungan
Malang, 15 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Tadabbur Ayat-ayat Pendidikan
Mutiara Pagi: Negeri Ini Cemburu (Bagian 1931)
Jurnalisme Profetik, Antara Idealisme dan Realitas Industri
Menelisik Karut-marut Royalti Musik, Kalisa Putri Menjawab Lewat Tesis Hukum
Demisioner Presma STAI Al-Azhary Dandi Kusnadi, Wakili Indonesia di Young ASEAN Islamic Leader Future 2025
Mahasiswa KKN Kelompok 7 Bersama SMK Mutiara Qolbu dan Warga Desa Sindangsari Laksanakan Penanaman Bibit Tumbuhan
Mahasiswa KKN Kelompok 5 STAI Al Azhary Cianjur Gelar Seminar Pelatihan MC di Pondok Pesantren Attaqwa
Pondok Literasi Resmi Dibuka, Mahasiswa KKN 9 STAI Al-Azhary Luncurkan Buku untuk Masyarakat
Pasar Syariah Sambut HUT RI, Mahasiswa KKN 9 STAI Al-Azhary Berdayakan UMKM Desa Sukajadi
Mutiara Pagi: Tentang Kemerdekaan (Bagian 1932)