Penting untuk selalu bertanya
Apakah kesibukan kita bermakna?
Sehingga tidak sampai sia-sia
Mengapa melakukan itu semua?
Kesibukan menjadi bagian kehidupaan
Bahkan menjadi simbol keberhasilan
Hingga takut untuk berhenti sejenak
Di tengah kesibukan yang teramat banyak
Jadwal sangat padat
Agenda bertumpuk-tumpuk
Sampai tak ada waktu istirahat
Meski hanya sekadar duduk
Padahal sejumlah kesibukan
Riak kecil di lautan kehidupan
Hanyalah lapisan permukaan
Seperti ombak di lautan
Akibat yang sering terjadi
Manusia mengejar semua yang dinginkan
Padahal Sang Pencipta semesta ini
Hanya memberi apa yang kita butuhkan
Kesibukan telah menjadi candu
Demi mencapai kemenangan semu
Menggerus ruang-ruang hening
Yang sejatinya jauh lebih penting
Untuk mendengar suara hati:
Apakah kita sungguh-sungguh hidup?
Ataukah sejatinya kita telah mati
Hanya fisik yang terlihat hidup
Malang, 17 April 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Tidak Ada yang Diam (Bagian 1811)
Dari "Petani Gabah", Menuju "Petani Beras"
Tadarus Ayat-Ayat Pendidikan
Transcontinental Countries: Negara yang Wilayah Geografisnya Berada di Dua Benua atau Lebih
Upah Rendah Pekerja Cianjur: Realita yang Masih Menghimpit
Mutiara Pagi: Mimpi (Bagian 1812)
Bagaimana Indonesia di Mata Orang Asing (Bedakan Negara dan Rakyat)?
Ijazah, Hal Remeh Tapi Berdampak Besar
Mengenal Muhammad Arif Nuryanta, Hakim Terpeleset Suap Rp60 Miliar
Sejarah Mudik