Lapar dalam Puasa Menjadi Metafora Kerinduan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 9 Maret 2025 | 07:32 WIB
Mohamad Sinal
Mohamad Sinal

Dalam sastra klasik, lapar sering menjadi metafora kerinduan. Jalaluddin Rumi menulis, "Tuhan memberi kita rasa lapar agar kita merasakan manisnya makanan." Hal ini bukan hanya merujuk pada makanan jasmani, tetapi juga pada kerinduan batiniah manusia kepada Sang Pencipta.

Seorang pencari kebenaran akan selalu merasakan lapar akan ilmu. Seorang pecinta akan selalu merasakan lapar akan perjumpaan dengan kekasihnya. Begitu juga seorang hamba akan selalu merasakan lapar akan kasih Tuhan.

Dalam kehidupan sosial, lapar juga menjadi perekat yang menyatukan manusia. Berbagi makanan adalah simbol kebersamaan yang paling purba. Oleh karena itu, dalam budaya mana pun, makan bersama menjadi momentum mempererat hubungan dan memperdalam cinta.

Sungguh ironis, di era modern ini, kita semakin sulit makan bersama dengan orang-orang terdekat kita. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Sementara meja makan yang dahulu menjadi tempat berbagi cerita, seolah-olah dibiarkan kosong begitu saja.

Lapar yang menumbuhkan cinta bukanlah lapar yang melemahkan atau menyengsarakan. Ia adalah lapar yang menyadarkan. Ia adalah rasa kosong yang mengajarkan kita arti kebersyukuran.

Dengan kata lain, ia adalah kekurangan yang membentuk kita menjadi manusia yang lebih peduli. Dengan demikian, mungkin sesekali kita perlu berhenti sejenak dan merasakan lapar, bukan hanya di perut, tetapi juga di hati. Sebab di dalam lapar tersebut, kita akan menemukan cinta yang lebih tulus, lebih mendalam, bahkan lebih bermakna.

*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Ucapan (Bagian 2229)

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:00 WIB

Mutiara Pagi: Diam atau Bersuara (Bagian 2228)

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:02 WIB

Mutiara Pagi: Ruang Perjumpaan (Bagian 2227)

Senin, 1 Juni 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan ( Bagian 2226)

Minggu, 31 Mei 2026 | 08:11 WIB

Mutiara Pagi: Logika (Bagian 2225)

Sabtu, 30 Mei 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Simfoni Kerinduan (Bagian 2224)

Jumat, 29 Mei 2026 | 06:30 WIB

Mutiara Pagi: Manusia Paripurna (Bagian 2223)

Kamis, 28 Mei 2026 | 07:17 WIB

Mutiara Pagi: Delapan Benda Langit (Bagian 2221)

Selasa, 26 Mei 2026 | 07:56 WIB

Mutiara Pagi: Musik dan Kehidupan (Bagian 2220)

Senin, 25 Mei 2026 | 07:45 WIB

Mutiara Pagi: Tangan Langit (Bagian 2219)

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:20 WIB

Mutiara Pagi: Istiqomah Terberat (Bagian 2218)

Sabtu, 23 Mei 2026 | 07:09 WIB

Mutiara Pagi: Menulis Kisah (Bagian 2216)

Kamis, 21 Mei 2026 | 06:43 WIB

Mutiara Pagi: Siklus Kehidupan ( Bagian 2215)

Rabu, 20 Mei 2026 | 07:00 WIB

Mutiara Pagi: Kata-kata Manusia (Bagian 2214)

Selasa, 19 Mei 2026 | 06:45 WIB

Mutiara Pagi: Kesibukan (Bagian 2212)

Minggu, 17 Mei 2026 | 08:32 WIB

Mutiara Pagi: Tajassus (Bagian 2211)

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:41 WIB
X