Membiarkan Husein dan rombongan kembali ke Madinah.
Membiarkan Husein pergi ke Syam untuk bertemu langsung dengan Yazid bin Muawiyah.
Membiarkan Husein dan rombongannya bergabung dengan pasukan muslim untuk berjihad melawan musuh dari luar, dengan hak menerima tunjangan perang sesuai ketentuan.
Umar bin Sa’ad pada dasarnya setuju, tetapi ia mengatakan akan meminta persetujuan dari Ubaidillah bin Ziyad terlebih dahulu. Ia pun menulis surat dan mengirimnya ke Kufah.
Namun, Ubaidillah menolak semua usulan Husein dan bersikeras agar Husein tunduk pada kekuasaannya. Ia menyuruh kurirnya membacakan surat jawabannya langsung di hadapan Umar bin Sa’ad, sambil memerintah jika Umar menolak memerangi Husein, maka kurir harus memenggal leher Umar dan menggantikan posisinya sebagai komandan pasukan.
Setelah membaca surat tersebut, Umar pun memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Sebelum itu, Umar memerintahkan Husein agar tunduk kepada Ubaidillah bin Ziyad, namun Husein menolak dan berkata, “Daripada menerima itu, lebih baik mati.”
Pertempuran pun dimulai. Pasukan Umar menyerang Sayyidina Husein dan rombongan kecilnya yang hanya berjumlah 72 orang dan tidak bersenjata. Dalam pertempuran yang sangat tidak seimbang ini, Husein mengalami ujian yang luar biasa berat.
Ia menyaksikan sendiri keluarga dan sahabat-sahabatnya dibunuh satu per satu saudara-saudaranya, keponakannya (anak-anak Sayyidina Hasan), dan sepupu-sepupunya. Hingga akhirnya, Husein sendiri menjadi korban terakhir.
Ia dibantai secara keji oleh Syimir bin Dzul Jaushan, anggota pasukan Umar bin Sa’ad. Sayyidina Husein gugur setelah menyaksikan tragedi pembantaian atas keluarga terbaik dari dzurriyyah Rasulullah ﷺ. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, di sebuah tempat bernama Karbala.
Dengan terjadinya tragedi ini, seluruh kaum Muslimin menyaksikan bagaimana seorang komandan pasukan, anak dari tokoh Quraisy bernama Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqas, memimpin pembantaian atas cucu Rasulullah ﷺ, mencincang tubuh Sayyidina Husein bin Ali, dan memenggal kepala dua anak Ja’far bin Abi Thalib.
Pasukan Umar tidak hanya membunuh, tetapi juga memperlakukan jenazah dengan sangat keji. Tubuh-tubuh mereka dilucuti pakaiannya dan ditinggalkan begitu saja tanpa kain kafan, termasuk tubuh Sayyidina Husein yang kepalanya dipenggal dan dikirim ke Syam untuk diserahkan kepada Yazid bin Muawiyah.
Jibril pernah memberitahu Rasulullah ﷺ tentang tragedi ini dan menyebut bahwa ia membawa empat kain kafan, namun tidak membawa kafan untuk Husein.
Tidak cukup dengan pembantaian, Umar bin Sa’ad juga memperlakukan wanita-wanita dari Ahlul Bait sebagai tawanan dan membawa mereka ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad.
Satu-satunya dari Ahlul Bait yang selamat adalah Ali Zainal Abidin, putra Husein yang saat itu masih kecil dan sedang sakit.
Wanita-wanita dari Ahlul Bait, bersama Ali Zainal Abidin dan kepala-kepala para syuhada Karbala, dibawa ke Syam untuk dihadapkan kepada Yazid bin Muawiyah.