Dia tidak mengandalkan bakat semata, melainkan pada perhitungan yang teliti dan verifikasi yang tak henti. Ia bahkan pernah tidur di bawah meja laboratorium karena tidak ada asrama khusus wanita di institusi penelitian.
Saat melarikan diri dari rezim Nazi yang kejam, di tengah situasi pelarian yang genting, Lise Meitner menemukan rumus fisi nuklir di dalam toilet kereta.
Kisah ini menggambarkan kegigihan dan dedikasinya yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan, bahkan di bawah tekanan ekstrem.
Lise Meitner adalah mentor bagi sebagian besar komunitas fisika nuklir Eropa, namun ia tidak pernah disebut sebagai "nenek" karena gelar tersebut "tidak terdengar sehebat 'pria jenius'."
Ini adalah cerminan dari bias gender yang mendarah daging, di mana wanita yang "membantu orang lain meraih kesuksesan" selalu disebut "pembantu" dan tidak pernah diakui sebagai "penemu" sejati.
Ia dikenang sebagai "ilmuwan wanita bermoral" sepanjang hidupnya, seolah-olah perannya hanya sebatas "hati nurani" dalam sains, sementara para pria yang bertanggung jawab atas "terobosan R&D" diakui sebagai "juru mudi."
Padahal, Lise Meitner tidak hanya memiliki tujuan etis; ia memiliki rumus, data, dan wawasan inovatif yang tak terbantahkan.
Ia bukan wanita yang terkucilkan karena ketidaktahuannya, melainkan wanita yang mengetahui segalanya, namun tetap saja dikucilkan dari pengakuan yang seharusnya ia dapatkan.
Hingga kini, sejarah masih terus berjuang untuk membentuk kembali nasibnya dan memberikan tempat yang layak bagi Lise Meitner.