Journalnusantara.com, Teheran - Eskalasi ketegangan antara Iran dan Israel berpotensi memicu gejolak ekonomi global yang signifikan, dengan implikasi serius terhadap kondisi domestik. Fokus perhatian tertuju pada dua selat sempit (chokepoint) strategis di Timur Tengah: Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Selat Hormuz, dengan lebar hanya 21 mil, dikuasai oleh Iran. Sementara itu, Selat Bab el-Mandeb yang berada di mulut Yaman, dikendalikan oleh milisi Houthi yang pro-Iran. Jika Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz, dan milisi Houthi mengancam pelayaran di Bab el-Mandeb, serangkaian dampak ekonomi diprediksi akan terjadi:
1. Lonjakan Harga Minyak Dunia:
Sekitar 20% pasokan minyak dunia, atau setara 21 juta barel per hari, melintasi Selat Hormuz, dengan 82% di antaranya menuju Asia. Sementara itu, sekitar 12% pasokan minyak global melewati Selat Bab el-Mandeb.
Indonesia sendiri mengonsumsi sekitar 1,6 juta barel BBM per hari, namun produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sisanya 1 juta barel harus diimpor. Dengan harga minyak saat ini di kisaran 74 dolar AS per barel, Indonesia mengeluarkan 74 juta dolar AS (sekitar Rp 1,2 triliun) setiap hari untuk impor.
Jika kedua selat strategis tersebut terganggu, harga minyak bisa melonjak hingga 100 dolar AS per barel atau bahkan lebih. Akibatnya, harga BBM dalam negeri akan naik, dan beban subsidi pemerintah pun akan membengkak.
2. Kenaikan Biaya Logistik dan Harga Barang:
Laut Merah menjadi jalur vital bagi sekitar 26.000 kapal barang yang mengangkut 30-35 juta kontainer per tahun. Meskipun Selat Hormuz juga mengangkut barang, volumenya tidak sebesar Laut Merah.
Ancaman penembakan kapal oleh Houthi akan membuat jalur Laut Merah tidak aman, memaksa kapal-kapal untuk mencari rute alternatif yang lebih panjang dan mahal. Hal ini akan menyebabkan kenaikan signifikan pada biaya logistik, yang pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga barang secara global.
3. Peningkatan Inflasi dan Suku Bunga:
Lonjakan harga minyak dunia dan biaya barang akan memicu kenaikan inflasi secara global. Sebagai respons, bank-bank sentral di berbagai negara cenderung menaikkan suku bunga untuk meredam laju inflasi. Tekanan serupa juga akan dialami oleh suku bunga bank di Indonesia, yang berpotensi ikut meningkat.
4. Ketidakpastian Iklim Investasi dan Pelemahan Rupiah:
Kondisi geopolitik yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian dalam iklim investasi. Investor cenderung menunda rencana investasi mereka dan lebih memilih untuk menyimpan dana dalam bentuk valuta asing, deposito, atau emas sebagai aset lindung nilai.
Hal ini akan menyebabkan peningkatan permintaan dolar AS, yang berujung pada pelemahan berkelanjutan nilai tukar Rupiah. Kenaikan harga bahan baku industri juga akan menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.