Tidur di Muzdalifah bukan sekadar rebahan di tanah terbuka. Ia adalah bentuk kepasrahan total, ketenangan batin yang tak bisa dibeli oleh dunia.
Tak ada ranjang empuk, tak ada pendingin ruangan, hanya langit malam yang menjadi atap, dan bumi yang menjadi alas.
Di sana, tak ada perbedaan antara kaya dan miskin. Semua tidur bersisian, berselimut debu dan doa. Tubuh-tubuh lelah terbaring setelah menyelesaikan ritual suci di Arafah.
Namun justru di keletihan itu, ruh merasa damai. Tak ada gadget, tak ada hiruk-pikuk dunia, hanya dzikir yang terucap lirih, menggetarkan hati.
Tidur di Muzdalifah adalah tidur yang dirindukan langit dan bumi. Ia bukan sekadar istirahat, tapi simbol penyerahan diri.
Malam itu, jutaan manusia memohon, menangis, memanjatkan doa dalam diam. Ada getaran yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasa oleh jiwa yang hadir sepenuhnya.
Mungkin inilah tidur paling indah di dunia. Bukan karena kenyamanannya, tapi karena ketulusan yang mengiringinya. Tidur yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang dipanggil oleh-Nya.
Ya Allah, Engkau yang membolak-balikkan hati, bukakanlah pintu bagi kami untuk bisa hadir ke tanah suci-Mu.
Berikan kami kesempatan merasakan tidur yang dirindukan itu tidur di Muzdalifah, di tengah jutaan jiwa yang berserah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.