internasional

Perjalananku ke Mekkah

Minggu, 10 November 2024 | 14:55 WIB

Bupati Bandung yang memiliki nama asli Raden Adipati Aria Muharam Wiranatakusuma ini lahir di Bandung pada 8 Agustus 1888. Ia merupakan putra dari Bupati Bandung sebelumnya, yaitu Raden Tumenggung Kusumadilaga, Bupati Bandung ke-10, yang bergelar Wiranatakoesoema IV. Sang ayah meninggal ketika Wiranatakusuma berumur 5 tahun.

Dengan warisan yang ditinggalkan oleh ayahnya, dia dapat menikmati kehidupan yang layak dan mendapatkan pendidikan yang baik. Bahkan setelah kematian ayahnya, orientalis Snouck Hurgronje, menjadi wali penggantinya secara langsung. Berkat bantuan Hurgronje, Wiranatakoesoema memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan di HBS (Hogere Burgerschool) Gymnasium Willem II di Batavia.

Wiranatakusuma memulai perjalanan haji tiga bulan sebelum waktu yang ditentukan. Pada tanggal 23 Maret 1924 dia meninggalkan Bandung. Selang dua hari kemudian, ia melewati Batavia (Jakarta), dan akhirnya tiba di Jeddah pada 13 April 1924. Memoar Wiranatakusuma tentang perjalanannya ini menjadi menarik karena berisi banyak pengalaman pribadinya sebagai jemaah haji dan tokoh masyarakat. Salah satu cerita menarik dari perjalanan Wiranatakusuma ialah ia sering bertemu oleh Syarif Hussein Ali, penguasa Makkah, bahkan diundang dan dijamu olehnya.

Wiranatakusuma juga mendapatkan beberapa keistimewaan, seperti diberikan fasilitas mobil untuk keperluan tertentu. Keberadaan mobil ini sangat berarti bagi Wiranatakusuma saat Mekah diserang oleh pasukan Bani Saud yang berusaha mengambil alih Tanah Suci. Mobil tersebut membantu Wiranatakusuma untuk menyelamatkan diri.

Selain itu pengalamannya dituliskannya dengan penuh hikmat dan haru ketika ia memperhatikan persatuan orang-orang Islam dari seluruh dunia yang berkumpul di Masjidil Haram. Dalam memoarnya, ia menuliskan “Sekian banyak manusia sujud semata-mata menyembah satu Tuhan; bermacam-macam bangsa, dari berbagai negara dengan wujud yang sama, telah berkumpul ke Makkah dan hidup di sana sebagai bersaudara.

Saya sendiri pun ikut bagian dari persaudaraan yang besar itu.” Lebih lanjut ia menuliskan “Di sana, di Mekah itu, berpuluh ribu sekali tunduk dan sujud dengan wujud yang satu, berjenis-jenis bangsa mengerjakan suruhan Tuhan Yang Esa. Walaupun tiap-tiap bangsa mencarinya bangsa masing-masing, akan tetapi sekaliannya itu menjadi satu jua, sama tunduk, sama sujud, sama duduk dengan wujud yang sama…”

Selain penggalan cerita tersebut sebenarnya masih banyak lagi pengalamannya yang dituliskan dalam memoarnya, mulai dari berangkat, perjalanannya di tengah laut, dan saat di karantina haji di Pulau Onrust. Ketika Wiranatakusuma berada di Makkah, ia mengunjungi Istana raja, melakukan perjalanan ke Thaif, Arafah, dan Mina. Memoarnya berlanjut hingga perjalanan pulang.

Tjiandjoer dan RAA Wiranatakusuma

Rd. Aria Adipati Wiranatakoesoema V (Sunda: ᮛᮓᮔᮦ᮪ ᮃᮛᮤᮃ ᮃᮓᮤᮕᮒᮤ ᮝᮤᮛᮔᮒᮊᮥᮞᮥᮙ |᮵|, Latin: Radén Aria Adipati Wiranatakusuma ke-5) (28 November 1888 – 22 Januari 1965), sering dieja dengan Aria Wiranatakusuma, adalah Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia yang pertama. Lahir di Bandung sebagai keturunan bangsawan, Wiranatakoesoemah mendapat pendidikan di ELS, OSVIA, dan HBS. Sewaktu pembentukan Republik Indonesia Serikat, ia pernah menjabat sebagai Wali atau Presiden Negara Pasundan, salah satu negara federal RIS.

Selain itu ia juga merupakan Bupati Bandung Periode 1920 - 1931 dan Periode 1935 - 1945 dan Pada tahun 1945 ia diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia setelah itu ia diangkat menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung dari tahun 1945 sampai 1948, sebelum akhirnya menjadi Presiden Negara Pasundan. Sebelum menjabat Bupati Kabupaten Bandung jabatannya adalah:

Tahun 1910 menjadi Juru Tulis camat Tanjungsari
Tahun 1911 menjadi Mantri Pulisi di Sukabumi
Tahun 1912 menjadi Camat di Tasikmalaya
Tahun 1912 menjadi Bupati Cianjur

Dalam buku sunda sejarah, budaya dan politik dari Rieza D Dienaputra (transformasi sistem politik di Cianjur dari tradisional ke Modern) dijelaskan

"Di luar R.A.A. Prawiradireja I dan R.A.A. Kusumahningrat, pola peralihan kekuasaan yang dilakukan tiga bupati lainnya tampak berbeda-beda. R.A.A. Prawiradireja II, meskipun memiliki putera lelaki, tetapi tidak menurunkan kekuasaannya kepada putera lelakinya. Penggantinya adalah menantunya, Raden Muharam Wiranatakusumah, bekas camat Cibeureum, kabupaten Bandung. Naiknya Raden Muharam Wiranatakusumah atau Raden Aria Adipati Wiranatakusumah sebagai bupati Cianjur (1912-1920), bisa dikatakan telah menjadikannya sebagai bupati Cianjur pertama yang bukan berasal dari trah Wira Tanu Datar.

Ketika R.A.A. Wiranatakusumah dialihkan tugasnya sebagai bupati Bandung, jabatan bupati Cianjur dialihkan kepada Suriadiningrat atau Raden Aria Adipati Suriadiningrat (1920-1935).[50] Suriadiningrat bisa dikatakan tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan R.A.A. Wiranatakusumah. Dengan demikian, R.A.A. Suriadiningrat bisa dikatakan merupakan bupati kedua di Cianjur yang bukan berasal dari trah Wira Tanu Datar "

Perkembangan Pranata Keagamaan dan Haji di Tjiandjoer

Halaman:

Tags

Terkini

Jalan Maju Chile

Rabu, 8 Juli 2026 | 06:44 WIB

Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:19 WIB

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB