Menurut Rektor, "Sebagaimana pesan Umar RA, ketika berjalan di jalan yang penuh duri atau runcing, kita harus melangkah dengan hati-hati. Begitu pula dalam menggunakan AI. Teknologi ini harus dimanfaatkan secara hati-hati dan bijaksana agar tidak keluar dari koridor etika dan integritas akademik."
Menurutnya, tantangan terbesar bukan terletak pada keberadaan AI, melainkan pada cara manusia menggunakannya.
Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah terjadinya ketergantungan yang berlebihan terhadap AI sehingga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, refleksi ilmiah, dan dimensi kemanusiaan perlahan mengalami penurunan.
Dakam hal ini, Rektor menegaskan bahwa Generative AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan intelektual manusia. Nilai-nilai kemanusiaan tetap harus menjadi unsur yang paling dominan dalam setiap proses akademik.
Rektor juga menyoroti praktik yang mulai banyak ditemukan, yaitu penggunaan hasil AI yang disalin secara utuh, termasuk struktur penulisan, gaya bahasa, dan pola argumentasinya, tanpa proses telaah, penyuntingan, maupun pengembangan pemikiran oleh penulis. Praktik tersebut kemudian diklaim sebagai karya orisinal, padahal bertentangan dengan prinsip integritas akademik.
"Karya yang dihasilkan AI tidak boleh langsung disalin seratus persen lalu diakui sebagai karya sendiri. Harus ada proses berpikir, penelaahan kritis, verifikasi, penyuntingan, serta kontribusi intelektual nyata dari penulis," ujarnya.
Atas dasar itu, Rektor mendorong agar "Panduan Penggunaan Generative AI UIN Sunan Gunung Djati Bandung segera diluncurkan sebagai pedoman resmi bagi dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan peneliti. Panduan tersebut diharapkan tidak hanya mengatur batasan penggunaan AI, tetapi juga memuat mekanisme sitasi, transparansi penggunaan AI dalam karya ilmiah, perlindungan data, serta ketentuan mengenai pelanggaran dan sanksi akademik bagi pengguna yang terbukti menyalahgunakan teknologi tersebut.
Lebih jauh, Rektor menegaskan bahwa sebagai perguruan tinggi Islam, pemanfaatan AI harus dibangun di atas fondasi nilai-nilai keislaman yang menjadi karakter utama UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Nilai-nilai tersebut meliputi amanah dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, shidq sebagai kejujuran akademik dalam mengakui proses penyusunan karya ilmiah, 'adl' sebagai keadilan dalam penggunaan teknologi tanpa merugikan pihak lain, serta ihsan dengan menghadirkan kualitas terbaik melalui perpaduan kecanggihan teknologi dan kemampuan intelektual manusia.
Selain itu, pemanfaatan AI juga harus berorientasi pada hifzh al-'aql, yaitu menjaga akal dan rasionalitas agar manusia tidak kehilangan kemampuan berpikir kritis, hifzh al-'irdh yaitu menjaga kehormatan dan martabat akademik dengan menghindari manipulasi karya ilmiah serta tabayyun dengan melakukan klarifikasi dan verifikasi terhadap setiap informasi yang dihasilkan AI sebelum digunakan sebagai rujukan ilmiah.
Melalui penyusunan panduan tersebut, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan komitmennya untuk menjadi perguruan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap berpegang teguh pada etika akademik, integritas ilmiah, serta nilai-nilai keislaman.
Kehadiran Generative AI diharapkan menjadi instrumen penguat kualitas pendidikan tinggi, bukan pengganti nalar kritis dan tanggung jawab intelektual yang menjadi jantung kehidupan akademik.