Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dorong Percepatan Peluncuran Panduan Generative AI Berbasis Etika Akademik dan Nilai

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 3 Agustus 2026 | 20:56 WIB
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag. (FOTO: Ist)
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag. (FOTO: Ist)

JOURNALNUSANTARA.COM, BANDUNG - Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menegaskan pentingnya percepatan peluncuran "Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence (AI)" sebagai acuan resmi bagi seluruh sivitas akademika.

Arahan tersebut disampaikan dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Senin (3/8).

Dalam arahannya, Rektor menegaskan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan merupakan keniscayaan yang tidak mungkin ditolak.

Karena itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi institusi yang mampu menghadirkan tata kelola, etika, dan regulasi yang jelas dalam pemanfaatannya.

"Kita tidak bisa menolak kehadiran AI. Yang harus dilakukan adalah menghadirkan aturan agar penggunaannya tidak menjadi liar dan tetap menjaga marwah akademik serta orisinalitas karya intelektual," tegas Rektor.

Menurutnya, selama ini UIN SGD Bandung telah memiliki regulasi mengenai plagiarisme sebagai instrumen menjaga integritas akademik.

Namun, hadirnya teknologi Generative AI menuntut adanya penyesuaian kebijakan agar mampu menjawab tantangan baru yang muncul dalam proses pembelajaran, penelitian, maupun publikasi ilmiah.

Rektor menjelaskan bahwa kehadiran AI tidak boleh menggeser tradisi intelektual yang selama ini dibangun melalui proses berpikir kritis, kreativitas, dan kejujuran ilmiah.

Oleh karena itu, aturan mengenai penggunaan AI harus dirancang secepatnya agar tetap mampu menjaga kemurnian tradisi akademik sekaligus memberikan ruang bagi inovasi teknologi.

Selain penyusunan regulasi, Rektor menekankan pentingnya edukasi yang berkelanjutan kepada seluruh sivitas akademika mengenai etika penggunaan AI.

Edukasi tersebut mencakup integritas akademik, penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual, perlindungan data pribadi, serta kesadaran terhadap berbagai konsekuensi yang dapat muncul akibat penggunaan teknologi kecerdasan buatan.

Rektor mengingatkan bahwa penggunaan AI menyimpan risiko terhadap keamanan dan privasi data apabila digunakan tanpa kehati-hatian.

Karena itu, setiap pengguna harus memiliki literasi digital yang memadai sehingga mampu memilah informasi yang layak diproses oleh sistem AI dan informasi yang harus tetap dijaga kerahasiaannya.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor mengutip pesan dari Sayyidina Umar bin Khattab RA sebagai analogi dalam memanfaatkan teknologi modern.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X