"Dua puluh tahun kemudian, kita tidak berada di tempat yang lebih baik. Erdogan tidak hanya melemahkan institusi negara tetapi dia juga melemahkan masyarakat sipil Turki," jelasnya.
Ini yang di awal artikel ini disebut, bahwa sejak Sabtu kemarin, upaya pencarian korban gempa dihentikan, karena adanya bentrokan "yang tidak diketahui".
Dari beberapa statement di atas, nampak upaya framing yang sangat mungkin mengarah pada pergantian rezim Turki, sebagaimana yang terjadi pada tahun 2014 lewat Revolusi Warna yang menjadikan Zelensky sebagai Presiden Ukraina.
Baca Juga: Resmi, Lisensi Ajang Pemilihan Puteri Indonesia Berganti Nama
Sikap Turki menolak menjatuhkan sanksi ekonomi atas Rusia, mencerminkan sikap Turki yang tidak ingin kehilangan Rusia karena ketergantungan ekonomi Turki kepada Rusia. Turki tidak ingin kehilangan wisatawan Rusia yang mencapai 4,7 juta orang pada tahun 2021 dan neraca perdagangan dengan Rusia yang mencapai 32,5 miliar dollar AS pada tahun 2021.
Turki juga tidak ingin kehilangan sumber pasokan gandum. Apalagi terakhir Negara ini dilanda krisis ekonomi akibat terus melorotnya nilai lira, mata uang Turki. Selain itu, Erdogan menghadapi masalah politik domestik, menghadapi Pemilu pada 14 Mei 2023. Erdogan tentu tidak ingin ekonomi Turki terus memburuk, ditambah dampak ekonomi pasca-gempa, yang bisa menyebabkan kekalahan Erdogan.
Faktor-faktor itulah yang berada di balik langkah Turki untuk terus berusaha menjadi mediator antara Rusia dan Ukraina guna segera mengakhiri perang di Ukraina. Dengan posisinya yang unik ini, Turki mendapat pujian luas atas dorongannya untuk mengakhiri perang.
Namun, sikap Turki ini tentu tidak disukai oleh mereka yang menginginkan perang ini.
Sikap main dua kaki Turki ini juga tampak dari penolakan Edrogan atas keinginan Finlandia dan Swedia untuk bergabung dengan NATO.
Dikutip dari dw.com/id, bergabungnya Swedia dan Finlandia akan memperkuat sayap timur NATO, karena kedua negara ini memiliki militer yang kuat. "Ini langkah tepat untuk menghadapi Validimir Putin", tulis dw.
Sementara itu, Putin mengancam akan mengerahkan kekuatan militer yang sama seperti yang dilakukan Rusia di Ukraina, jika NATO membangun infrastruktur di Finlandia dan Swedia.
Baca Juga: Hemat Biaya dan Waktu, DPR RI Usul Ibadah Haji Dipangkas Jadi 30 Hari
Dengan perspektif ini, kemungkinan bahwa gempa Turki adalah rekayasa konspirasi untuk mengganti rezim Turki, menjadi terbuka. Amerika dan NATO tidak ingin kehilangan momentum untuk melanjutkan perang dengan Rusia, sampai tujuan mereka tercapai.