opini

Benarkah Gempa Turki Bagian dari Skenario Perang Dunia III?

Senin, 13 Februari 2023 | 18:23 WIB
33 Ribu Korban Tewas Gempa Turki Mulai Dimakamkan Massal (Twitter @bdleonanda)

Pada postingan (02/02/23) disebutkan: "Aktivitas seismik yang lebih besar dapat terjadi dari 4 hingga 6 Februari, kemungkinan besar hingga magnitudo menengah atau tinggi. Ada sedikit kemungkinan peristiwa seismik yang lebih besar sekitar 4 Februari."

Selain kedua teori itu, sejumlah teori rekayasa konspirasi mengaitkan gempa Turki dengan High-frequency Active Auroral Research (HAARP) milik Amerika. Sebuah postingan di Facebook mengungkap bahwa fasilitas riset HAARP di Alaska bisa mengendalikan cuaca bumi.

Baca Juga: Pesawat Lion Air Jakarta-Bengkulu Mendarat Darurat di Palembang

Caranya dengan menggunakan partikel logam bergetar di atmosfer dengan gelombang radio. Teori ini menuding HAARP adalah penyebab utama gempa Turki. Dasarnya, antara lain kemunculan petir menjelang gempa Turki. Menurut teori ini, petir selalu terjadi ketika HAARP beroperasi.

Tudingan soal gempa hasil rekayasa HAARP juga dilontarkan oleh Walikota Ankara, Ibrahim Melih Gokcek. Lewat akun Twitternya, Gokcek menyebut, ini bukan kali pertama bagi Turki menjadi target gempa buatan manusia. "Sekarang, saya berpikir, ini mungkin gempa hasil rekayasa manusia. Saya tidak mengatakan hal itu pasti demikian, tetapi ada kemungkinan yang sangat besar", ungkap Gokcek.

Mengutip halaman resmi Stanford, gempa memang dapat dibuat oleh manusia. Salah satu kota di AS yang pernah cukup sering mengalami gempa buatan manusia adalah Oklahoma. Gempa buatan itu terjadi karena injeksi air pembuangan dari tambang minyak dan gas.

Air tersebut diinjeksi ke kedalaman 7000 kaki di bawah tanah di utara tengah Oklahoma dan selatan Kansas. Penyuntikan air ke dalam lapisan tersebut dapat berdampak kepada patahan di sekitarnya, sehingga bisa menghasilkan gempa.

Di sisi lain, Yevgeniya Gaber menilai pendapat yang menyebut gempa Turki hasil rekayasa manusia berbau politis. Ia menyerukan hal tersebut untuk ditanggapi secara serius.

"Ada peningkatan unggahan di media sosial berisikan teori konspirasi soal kemungkinan gempa dibuat oleh manusia yang bertujuan untuk memperlemah Turki usai peningkatan tensi dengan sekutu Baratnya.

Upaya-upaya untuk memengaruhi persepsi publik seperti ini soal tragedi gempa tersebut harus ditanggapi secara serius," kata Gaber, (10/2/23) di sebuah kanal berjudul "Edrogan di Ujung Tanduk". Gaber mengatakan, ada peluang untuk mempolitisasi gempa tersebut baik secara internal dan eksternal. Pasalnya, hanya beberapa jam setelah gempa terjadi, kanal Telegram Rusia mempublikasikan pesan yang menyerukan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan untuk memperbarui pembicaraan dengan Presiden Suriah, Bashar Al-Assad.

Baca Juga: Pesawat Lion Air Jakarta-Bengkulu Mendarat Darurat di Palembang

Kanal tersebut mengklaim, ini adalah saat yang bagus untuk mengkoordinasikan respon Turki, Suriah, dan Rusia. Setelah kanal itu muncul, terungkap pula adanya pembicaraan lewat telpon antara Erdogan dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

"Dengan banyaknya peristiwa di wilayah ini, penting untuk memastikan bahwa harga nyawa manusia tidak turun", kata Gaber, Penasihat Kebijakan Luar Negeri Perdana Menteri Ukraina. Media barat mulai mengangkat kemarahan warga Turki yang disebut mengarah ke Presiden Erdogan, akibat lambannya tim evakuasi datang ke lokasi bencana. Hal ini kemudian dikaitkan dengan pemilihan presiden pada 14 Mei mendatang. Gempa bisa memunculkan konsekuensi besar, tak hanya secara ekonomi, tapi juga bagi perpolitikan Turki.

"Jika ada salah penanganan dalam upaya penyelamatan, masyarakat akan frustasi dan akan ada reaksi pergolakan," ujar pendiri Cribstone Strategic Macro, Mike Harris, dikutip dari CNBC International, Kamis (9/2/2023). Komentar senada juga dikatakan analis yang merupakan direktur program Turki di Institut Timur Tengah AS, Gonul Tol. Menurutnya kemarahan terlihat jelas di Hatay, salah satu provinsi yang paling terdampak, di mana beberapa warga yang frustrasi mulai marah kepada Erdogan.

"Saya tidak bisa membayangkan dia (Erdogan) tidak terpengaruh oleh ini karena tingkat frustrasinya, saya melihat kemarahan itu secara langsung. Saya yakin itu akan berdampak," kata Tol. Tol juga membandingkan jumlah organisasi sipil yang membantu gempa besar tahu 1999 dengan saat ini. Penurunan jumlah diyakini karena sikap represif Erdogan, termasuk penahanan banyak orang dalam klaim kudeta yang gagal pada tahun 2016.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB