opini

100 Tahun Nahdlatul Ulama

Selasa, 31 Januari 2023 | 18:10 WIB
Harlah 1 Abad NU 2023 (Twibbonize.com/Cahaya ilmu)

Merawat jagad, kata Gus Yahya, berarti merawat dua dimensi. Yang pertama merawat bumi tempat manusia dan segenap spesies menjalani survivalnya. Jagad yang kedua adalah makhluk yang menempati. Berpijak pada spirit khalifah, Gus Yahya bermaksud mengajak banyak orang untuk mengambil peran optimal dengan akalbudinya ber-amar ma’ruf nahy munkar secara esensial; yakni mencegah kerusakan alam dan menciptakan manfaat dari idealisasi “surga di bumi.”

Gus Yahya sadar ada potensi dari manusia, apalagi dari kalangan terdidik di PBNU yang melimpah jumlahnya. Ini bisa menjadi solusi untuk mengeluarkan banyak orang dari keterkungkungan mental tak percaya diri. Paling tidak bisa mengubah dari keadaan lemah mentalitas lunatic; seperti burung pungguk merindukan bulan- ke arah mental tangguh menjadi aktor perubahan.

Baca Juga: Miris, Anggaran Kemiskinan RP500 Triliun Habis Buat Studi Banding dan Rapat di Hotel

Maka, untuk mendistribusikan imajinasi itu dibutuhkan ragam cara dan ragam media agar menyebar di kalangan pengikutnya. Beruntung Gus Yahya punya paman, seorang penyair jenius yang punya empati kuat. KH. Ahmad Mustofa Bisri mengarang puisi, kemudian menjadikannya lirik dan diolah oleh musisi Tohpati menjadi lagu.

Saya yakin “Theme Song Satu Abad” (Nahdlatul Ulama) “Merawat Jagad Membangun Peradaban” itu akan menemukan tempat di masa kini dan bertahan di masa panjang mendatang. Alasannya, bahwa liriknya penuh makna, dan musiknya bagus sekaligus pas diterima oleh kaum santri.

Penciptaan lagu ini menurut saya juga bagian penting dari keseriusan beroganisasi. Sebab, narasi besar yang dibundel dalam konstruksi rasionalitas, -dalam karya tulis berupa buku misalnya, -tetap tak memberi jaminan diterima oleh banyak orang.

Bahkan pesan lisan seperti pidato atau diskusi sekalipun -apalagi rasional dan tak lucu- seringkali hanya menyebabkan hadirin mengantuk. Musik adalah sarana vital menyebarkan “virus akal budi,” kata peneliti Richard Brodies.

Baca Juga: Dulu Gabung Indonesia, Kini 6 Negara Ini Memilih Pisah, Salah Satunya Timor Leste

Saya harap Gus Yahya benar-benar bahagia dengan munculnya lagu itu karena ini bukan perkara hiburan, melainkan strategi penting dalam usaha memobilisasi perilaku spesies sebagaimana burung punya lagu untuk menuju ke selatan atau ke utara saat berburu biji-bijian, sebagaimana juga kawanan sapi punya tembang untuk bergerak menyusuri sumber pangan.

Di dalam lagu itu terdapat sejarah dan nilai-nilai serta tugas kontemporer PBNU. Ada kisah lama hubungan ulama (pemimpin) dan pengikut-pengikutnya (yang dipimpin). Teks “pemimpin” dan “yang dipimpin” ini bukan saja mengambarkan esensi primer tentang relasi makhluk sosial, melainkan sebagai bukti PBNU itu memiliki integritas sebagai komunitas masyarakat. Nilai integritasnya besar karena dibuktikan oleh jutaan umat manusia yang loyal dengan aneka ragam alasan rasional atau emosional. Selain dari itu juga merupakan ekspresi relasi pemimpin dan yang dipimpin dalam ruang hegemoni, bukan dominasi. Ini merupakan modal dasar bagi gerakan sipil untuk melaju di gerbong pembentukan tatanan yang diimajinasikan (peradaban) dan bahkan bisa menjadi “pengarah” politik formal negara.

Selain itu ada teks tentang komitmen ideologis (akidah dan sunnah) dan juga teks tentang objektivikasi (agama, nusa dan bangsa) sebagai penjelas gerak misionaris PBNU dalam menjalankan organisasi. Teks tersebut memberi arah bahwa berorganisasi itu bukan tujuan, melainkan alat. Selanjutnya Gus Mus menekankan pentingnya penguatan hasrat melalui tekad dengan cara sebagai pengabdi (khidmat) yang menyertakan sifat empati (kasih-sayang) terhadap semesta.

Baca Juga: Hore, Ada Tes CPNS Tahun 2023

Makna lebih luas dari lirik lagu itu adalah, segenap gagasan tentang agama (baik ibadah maupun muamalah) tetap harus didaratkan pada usaha untuk melahirkan kebaikan bersama (Common good) atau peradaban (nilai dari unsur surgawi). Lebih penting lagi, di balik segenap usaha keras manusia harus lepas dari kesombongan.

Dengan kerendahan hati, Gus Mus mengajak semua orang yang berperan dalam lapangan sosial untuk mengutamakan amal dan mengurangi pamrih. Selamat hari lahir NU yang ke 100.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB