Di sinilah Islam mendobrak cara pandang yang salah itu. Islam pertama kali melakukan kritikan kepada “pikiran” (mindset) manusia dengan perintah “Iqra”. Bahwa manusia harus membuka wawasan dan pikiran sehingga tidak terpenjara oleh cara pandang yang dipaksakan oleh orang lain, termasuk lingkungan dominan yang kuat.
Salah satu hal yang paling mendasar dalam
Islam adalah mengedepankan identias spiritualitas (spiritual identity) di atas identitas-identitas yang lain. Islam di satu mengakui identitàs ras, etnis, suku, warna kulit, budaya, dna seterusnya. Tapi di atas semua itu ada identitas “spiritualitas” yang paling bernilai. Itulah karakter ketakwaan pada manusia (Al-Hujurat: 13).
Baca Juga: Dulu Gabung Indonesia, Kini 6 Negara Ini Memilih Pisah, Salah Satunya Timor Leste
Ketakwaan atau identitas spiritualitas inilah yang menjadi benteng terpenting dalam menjaga identitas manusia. Jika tidak maka manusia akan terombang-ambing oleh perubahan identitas seiring dengan perubahan kekuatan dominasi yang ada. Jika ini terjadi, manusia akan menjadi obyek dari lingkungan sekitarnya.
Ketika Allah mwngingatkan kita: “ittaqullaha haqaa tuqaatih” (ayat) atau Rasulullah dengan “ittaqillah hawtsu maa kunta” (hadits) sesungguhnya mengingatkan agar kita bertakwa dengan sungguh-sungguh, kapan dan di mana saja. Dan itu menjadi keharusan demi terjaganya identitas kemanusiaan yang paling mendasar. Semoga!
Jamaica City, Januari 2023
Presiden Nusantara Foundation