Oleh: Shamsi Ali
Merupakan sunnatullah (ketetapan Pencipta) bahwa manusia diciptakan dalam berbagai ciri identitas sosial. Identias itu sendiri pada diri manusia dapat dilihat pada sudut yang berbeda-beda. Ada identitas ras atau etnis dan suku. Ada pula identitas kultur dan budaya, termasuk bahasa. Dan banyak lagi yang menjadi karakter sosial yang dibanggakan oleh setiap orang.
Identitas manusia itu rentang mengalami pergeseran atau digeserkan, bahkan tidak jarang secara sistimatis dan sistemik. Dalam dunia kita masa kini misalnya identitas itu tergeserkan oleh cara pandang kehidupan yang didominasi oleh kekuatan segmen tertentu. Sehingga identitas manusia seringkali tanpa terasa tergeser secara paksa dengan cara halus. Bahkan tidak jarang pula dengan cara yang kasar.
Baca Juga: Putri Sultan Dubai Uni Emirat Arab Diam-Diam Naksir Cristiano Ronaldo
Di Amerika misalnya kelompok Komunitas hitam yang lebih dikenal dengan “Afro American” seringkali dipaksa untuk memposisikan diri sebagai American dengan cara pandang “mayoritas” yang kuat. Sehingga ketika seseorang memandang dirinya sebagai “an American” (orang Amerika) yang terimajinasikan kemudian adalah orang berkulit putih, berambut pirang dan bermata biru.
Padahal orang-orang Amerika berkulit hitam itu datang ke Amerika, atau tepatnya dipaksa, datang ke Amerika dengan identitasnya sendiri. Mereka berkulit hitam, memiliki kultur, budaya dan bahasa. Bahkan mereka memiliki keyakinan dan agamanya. Lingkungan dominan dengan kekuatannya memaksa mereka untuk merubah identitasnya. Termasuk merubah nama, bahasa bahkan agama dan keyakinan.
Poin yang ingin saya sampaikan adalah betapa identitas manusia rentang terancam ketika manusia itu berada pada posisi lemah atau dilemahkan. Ancaman itu bisa terjadi baik secara langsung atau melalui proses asimilasi sosial di mana kelompok dominan yang kuat akan menjadi pemenang.
Baca Juga: Miris, Anggaran Kemiskinan RP500 Triliun Habis Buat Studi Banding dan Rapat di Hotel
Spiritual identity
Dari sekian banyak identitas manusia dalam konteks kehidupan sosialnya, tidak ada identitas terkuat dan terpenting bahkan menjadi identitas mendasar (fundamental) dalam kehidupan manusia lebih dari identitas spiritualitas (agama dan keimanan). Identitas ini menjadi sangat mendasar karena menjadi bagian dari penciptaannya sebagai manusia (lihat Ar-Rum ayat 30).
Namun demikian karena kuatnya dominasi mayoritas yang kuat menjadikan identitas yang paling mendasar ini pun terancam. Jika Komunitas hitam (Afro) di Amerika kehilangan identitas spiritulitas (agama dan keyakinan) karena dipaksa, belakangan justeru imigran yang datang ke negara ini kehilangan identitas bukan karena paksaan. Tapi karena mengalami proses asimilasi (hanyut) tanpa pegangan yang kuat.
Hilangnya idenitas kemanusiaan menjadikan banyak orang yang tanpa disadari mengalami “identity degradation” (degradasi identitas) yang cenderung melihat identitas orang lain sebagai kebanggaan. Seolah identitasnya sendiri tidak punya nilai dan makna. Akibatnya cenderung lebih memuliakan dan meninggikan identitas orang lain.
Baca Juga: Hore, Ada Tes CPNS Tahun 2023
Contoh terkecil yang sering terjadi ketika saya diminta oleh seseorang (termasuk dari Indonesia) untuk mencari calon pasangan (suami atau isteri). Biasanya tanpa disadari meninggikan identitas orang lain dengan kriteria calon yang diinginkan. Misalnya, “ustadz carikan saya calon pendamping yang baik ya. Tapi kalau boleh yang bule ya Ustadz…”.
Dalam hati saya sebenarnya ingin menjawab: “really?”. Apa alasannya sehingga harus secara khusus “bule” disebutkan? Dari pengamatan singkat saya dapatkan karena memang sedang terjadi “krisis identitas” yang menjadikan sebagian orang mengalami “degradasi idenitas”. Seolah bule itu lebih baik, lebih pintar, lebih maju, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dan itu karena bulenya.