Oleh : Jacob Ereste
Begitu juga isyarat dari keberadaan diri sebelum hidup lalu sesudah kematian itu menghampiri sebagai bagian dari misteri rahasia serta kekuasaan hanya dimiliki oleh Tuhan. Dan semua rahasia serta kekuasaan dari Tuhan itu sungguh telah mengisyaratkan bahwa sesungguhnya manusia itu hanya sekadar menjalani saja lakon yang sudah ada. Selebihnya sekedar improvisasi saja agar pementasan seperti di panggung sandiwara bisa tersaji sempurna.
Baca Juga: Kesadaran dan Pemahaman Manusia Pancasila Sebagai Khalifah di Muka Bumi (Bag1)
Meskipun sebetulnya tiada kesempurnaan yang sesungguhnya di muka bumi ini. Sebab kodrat dan iradatnya memang sangat amat terbatas. Sehingga istilah bagi manusia yang bijak bestari itu mengatakan di atas langit masih ada langit. Artinya, tak ada yang patut atau perlu disombongkan di bumi ini.
Atas dasar itulah, sepanjang jalan spiritual yang masih tersisa dan masih harus ditempuh, takbir dan tahmid dengan penuh rasa syukur patut dilafaskan seperti lagu penghibur rindu, agar tak lelah atau takut mendekat menuju ke liang kubur. Tentu saja dalam perjalanan yang mungkin sangat menyenangkan ini, bisa semakin meyakinkan diri bahwa sesungguhnya kesadaran yang dilakukan dengan penuh kegembiraan bisa terus dilakukan sambil menebar benih, menyemai kedamaian serta kebaikan untuk sesama makhluk di muka bumi sebagai khalifah Allah.
Baca Juga: KKN UNPI Cianjur Gelar Giat Bersih Neglasari Asri di Bojong Picung
Toh, pada akhirnya, ketika mati semua semaian yang telah berbunga dan berbuah itu, tidak pula pasti menghias gundukan tanah di pekuburan dengan batu nisan yang mungkin terukir dengan tinta emas sekalipun. Sebab segenap harapan telah usai, tiada lagi pikiran cabul, kebohongan serta tipu daya, apalagi khianat dan zalim kepada rakyat saat menjadi penguasa sementara di bumi yang mungkin pula diperoleh dengan cara yang culas serta curang, seperti Pemilu yang sudah berulang kali terjadi atas nama demokrasi. Padahal, amanah mereka yang percayakan menitipkan pada diri kita, tak juga ada jaminan tidak diselewengkan. Meskipun otoritas dan kekuasaan yang dititipkan rakyat tidak pernah terlintas telah berubah menjadi dosa, akibat khianat pada amanah rakyat.
Baca Juga: Mengenal Kelebihan Gugatan Sederhana
Sedangkan suara rakyat pun, mungkin telah sejak awal tidak pernah diyakni sebagai suara Tuhan. Karena hakekat dari Tuhan itu sendiri pun terlanjur dianggap cuma sebagai bagian dari aksesoris atau narasi dari Pancasila yang tergantung pada dinding perkantoran di Indonesia.***