opini

Prasasti Zelfbestuur 1916 Antara Tjokroaminoto dan Soekarno Bandung sebagai Kota Zelfbestuur Islam (

Kamis, 27 Juli 2023 | 17:46 WIB
Nunu A Hamijaya saat bedah buku salahsatu karya tulisnya (Abdul Qodir Majid)

 

Oleh : Nunu A Hamijaya

Bagaimana dengan Tjokroaminoto?: Antara Bandung-Cianjur

Pada tahun 1912,Tjokroaminoto mengutus dua orang anggota dari Surabaya untuk menemui tiga orang tokoh di Bandung. Mereka adalah Suwardi Suryaningrat, Abdul Muis, dan A. Wignyadisastra. Suwardi Suryaningrat, yang kemudian dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, didapuk menjadi ketua Sarekat Islam Bandung (SI Bandung) dengan Abdul Muis sebagai wakil ketua dan Wignyadisastra sebagai sekretarisnya. Kehadiran SI Bandung ternyata mendapat sambutan hangat dari kalangan masyarakat Bandung saat itu, terbukti ketika beberapa kali mengadakan perkumpulan/rapat akbar, pertemuan tersebut dihadiri oleh banyak massa bahkan dihadiri oleh para pejabat setempat.

Baca Juga: Pemilu Sebagai Sarana Promotor Demokrasi Bagi Anak Muda Zilenial

Tjokroaminoto pertama kali  mengunjungi Bandung, sekitar tahun 1916, menjelang Natico I, Juni. Bahkan, antara tahun 1916-1917, beliau pernah  berkomunikasi dengan  birokrasi bupati Cianjur saat diminta menangani  perkara agraria,sehingga sebagai imbal  jasanya beliau mendapat tanah sawah  di sekitar Ciranjang, dulu  termasuk  Gununghalu, yang  dikenal dengan Blok Tjokro seluas  500 bata. Ia adalah  bupati yang mendukung Natico I CSI dan yang menjadi penjamin kepada pihak Gubernur Jenderal Idenburg. Bupati saat itu adalah R.A.A. Wiratanakusumah (1912-1920),yang terkenal sebagai murid langsung Snouck Horgronye saat di  Mekkah dan dikenal sebagai Dalem Haji. Pada saat Ziarah ke Mekkah mendapat penghargaan Bintang Istiqlal Klas I dari Raja Arab.Pernah menjabat   sebagai Meteri  Dalam Negeri pertama RI (1946),dan Wali Negara Pasoendan.

Tjokroaminoto  dan KH Usman Dhomiri  al Tijaniyyah

Pasca bebas  dari penjara (1921), Tjokroaminoto  tinggal  di rumahnya tokoh   syeikh  mursyid   Tijaniyah, K.H.  Ustman Dhomiri  di Cimahi. Karena  kedekatannya  itu, adiknya   Cokroaminoto  kemudian   dinikahkan dengan Usman Dhomiri. Sayangnya, adiknya meninggal sehingga tidak menghasilkan  keturunan. KH Usman merupakan tokoh di balik Laskar Hizbullah, dalam catatan sejarah di negeri ini namanya justru tidak pernah disinggung. Dari sejumlah sumber, Laskar Hizbullah justru didirikan atas inisiatif dari KH Wahid Hasyim, tokoh Masyumi, pada 4 Desember 1944.

Nama  Jalan HOS TJOKROMANITO

Tahun 2016, Pemkot  Bandung di era Ridwan Kamil (2013-2018)  melakukan perubahan nama-nama jalan. Warga Bandung pasti tidak  akan ngeuh kalau  ada yang bertanya Jalan RAA Wiranatakusumah, atau  Jalan H.O.S Cokroaminoto. Tapi kalau ditanya Jalan Pasirkaliki atau Jalan Cipaganti,   pastinya bakal ngeuh deh tuh jalan posisinya dimana. Padahal baik jalan dengan nama pahlawan dan juga yang bukan itu sebenarnya sama. Kalau Jalan RAA Wiranatakusumah adalah Jalan Cipaganti, sementara  Jalan H.O.S Cokroaminoto adalah Jalan  Pasirkaliki.***

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB