opini

Historiografi Tetralogi Islam Bernegara, Apa dan Bagaimana ? (Bag 2)

Rabu, 26 Juli 2023 | 15:58 WIB
Nunu A Hamijaya saat bedah buku salahsatu karya tulisnya (Abdul Qodir Majid)

 

Oleh : Nunu A Hamijaya

Bagaimana Buku Tetralogi Islam Bernegara  karya Nunu A Hamijaya, dkk merupakan perspektif baru historiografi   ?

Buku Tetralogi Islam Bernegara tersebut, memiliki ciri pembeda  dalam  hal :

  1. Titiknol milestone (tonggak penting) historiografinya  berawal dari peristiwa  sejarah dan diskursus tentang  ZELFBESTUUR,yang   artinya ‘Berpemerintahan sendiri’  dalam peristiwa  pidato TJOKROAMINTO, pada 18 Juni 1916 sebagai bagian dari agenda  NATICO  (National Congress)  I Central  Sarekat  Islam  (CSI)  di Bandung, 17 – 24 Juni 1916.
  2. Perbedaan perspektif tentang peristiwa PIAGAM JAKARTA dengan penghapusan 7 Kata dalam  Mukadimah Piagam Djakarta  adalah   sebagai  ‘terputusnya’  komitmen Islam Bernegara , antara   umat islam bangsa Indonesia dengan para pemmpin nasional  dalam  konteks bangunan kenegaraan yang   bernama Negara Republik Indonesia dan Proklamasi 17 Agustus 1945. Bahwa, secara   konstitusional ( UUD), negara RI  tidak memiliki  tanggungjawab   dan kewajiban    konstitusional terhadap  Syariah Islam  sebagai dasar negara dan sumber hukum  bernegara dan berbangsa.
  3. Menempatkan Tafsir Program Azas dan  Tandhim PSII sebagai  blueprint umum    tentang bagaimana  sebuah  pemerintahan Islam di Indonesia  dapat  dicapai dengan menjalankan  Langkah-langkah  program tersebut;  
  4. Memberikan penafsiran terhadap peritiwa   bersejarah  yang terjadi di    Tjisayong dan di Bangka (1948)  sebagai  dua  peristiwa yang  bersifat   paradoks dan anti-klimaks   dari suatu  milestone  perjuangan  revolusi nasional di Indonesia yang   digagas dalan  kerangka  national-state  dan Islamic-state  antara tahun 1945-1949;
  5. Memberikan perspektif historiografi dari sudut     hubungan   dan hukum   internasional   dan  Hukum   Tata Negara Darurat (HTND) dari suatu entitas   tiga  negara  yang diproklamasikan  sebagai  wujud   legal  standing  negara tersebut,  yaitu Negara RI (1945), Negara Islam Indonesia (1949) , dan negara RIS (1949).
  6. Memberikan perspektif baru historiografi tentang Negara Islam Indonesia (NII) dan Umat Islam Bangsa Indonesia (UIBI)

Baca Juga: Nongkrong Cerdas, Kedai Es Ka O Gelar Dialog Pendek (Dialek)

ISLAM yang mana yang dimaksud dalam perspektif  baru  Historiografi ?

ISLAM yang  pertamakali didakwahkan oleh Nabi SAW dan  para sahabatnya pada era Khulafaur Rosyidin. ISLAM yang berwujud menjadi sebuah Madinah al Munawaroh. ISLAM  yang  menurut hadits “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Baca Juga: Modus Penipuan Baru, Surat Undangan Whatsapp Ekstensi APK Bisa Kuras Data Pribadi dan Saldo Rekening

بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء

ISLAM yang  dikenali saat ini sering disebut  sebagai terorisme, anti-tolerasi, fundamentalisme, jihadis,  dan memiliki cita-cita tegaknya syariah,negara islam dan kekhilafahan. Dalam  skope historiografi  Islam sebagaimana  dituliskan  dalam Buku  Tetralogy Islam Bernegara adalah  ISLAM- nya kaum  pergerakan politiknya TJOKROAMINOTO, S.M. KARTOSUWIRJO, dan M. NATSIR.***

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB