Lima, kepemimpinan Ibrahim itu adalah kepemimpinan dengan fondasi “keyakinan yang tinggi”. Keyakinan tinggi ini yang lazim dikenal dengan “self confidence” (percaya diri). Self confidence bukan sikap superman. Tapi kuat dengan iman kepada Allah SWT.
Hal di atas terintisarikan dari peristiwa upaya pembakaran yang dilakukan oleh sang raja. Ibrahim memiliki yang keyakinan kokoh bahwa yang dapat menolong hanyalah Allah SWT. Dia bahkan menolak tawaran pertolongan para malaikat. Allah pun memerintahkan api menjadi dingin dan nyaman bagi Ibrahim AS (bardan wa salaaaman).
Tujuh, kepemimpinan Ibrahim itu bersifat inklusif dan terbuka. Menerima masukan bahkan kritikan dari siapapun. Karakteristik ini dalam bahasa politik masa kini dksebut “demokratis”. Membuka diri dan tidak alergi dengan masukan bahkan keritikan.
Baca Juga: Lepas 145 Peserta Cycling De Jabar, Bupati Marwan Dorong Pengembangan Wisata ke Level Dunia
Hal itu disimpulkan dari sikap Ibrahim ketika menerima perintah untuk memotong anaknya. Beliau pastinya yakin kalau mimpi itu adalah perintah Allah. Dan Ibrahim tidak pernah mempertanyakan apalagi menolak perintah Allah. Tapi dalam perintah memotong anaknya Ibrahim meminta pendapat anaknya: “bagaimana pendapat kamu?”.
Delapan, kepemimpinan Ibrahim itu berwawasan ketakwaan (kesalehan dan ketaatan). Karenanya segala yang terkait dengan kepemimpinannya merujuk kepada nilai-nilai ketakwaan.
Kesimpulan ini diambil dari doa beliau untuk dijadikan pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa: “waj’alna lil-muttaqina imaama”. Untuk terjadinya masyarakat (terpimpin) yang bertakwa, pemimpin dan kepemimpinannya harus berlandaskan ketakwaan.
Sembilan, kepemimpinan Ibrahim itu berkarakter “focus oriented” atau memiliki orientasi atau tujuan yang jelas. Orientasi kepemimpinan Ibrahim itu terfokus pada hadirnya stabiltas dan kemananan. Dengan stabilitasi akan terwujud kemakmuran. Tapi kemakmuran harus bercirikan keadilan.
Sepuluh, kepemimpinan Ibrahim AS itu berkarakter global. Bahwa Ibrahim yang dengan sendirinya menjadi sosok umat diangkat menjadi pemimpin global (dunia). Namun kepemimpinan beliau berwawasan dan berkarakter global.
Kesimpulan ini terangkum dalam penyampaian Ilahi di saat Ibrahim menuntaskan seluruh perintah-perintah Allah: “inni ja’iluka linnaas imaama” (sesungguhnya Aku menjadikan kamu pemimpin bagi manusia).
Demikian sepuluh karakteristik kepemimpinan Ibrahim AS yang terangkum dari rentetan perjalanan sejarah hidupnya. Semoga sepuluh karakteristik ini menjadi pegangan bagi para pemimpin dan para calon pemimpin. Bahkan semoga juga menjadi acuan bagi masyarakat untuk memilih pemimpin yang mendekati karakteristik-karakteristik kepemimpinan Ibrahim AS.
Terlebih khusus lagi semoga pemimpin Indonesia yang akan terpilih mampu menauladani kepemimpinan Ibrahim AS dalam kepemimpinannya dalam membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Indonesia yang “baldatun thoyyibah wa Rabbun Ghafur”. Amin!
Baca Juga: Akses Pintu ke JIS Cuma Ada Satu, Pemerintah dan PSSI Siap Tambah Lima lagi
Bintaro City, 8 Juli 2023
Presiden Nusantara Foundation