opini

Cerita Sedih di Sebuah Sore Hari

Rabu, 17 Mei 2023 | 06:15 WIB
Cerita Sedih di Sebuah Sore Hari (Pixabay )

Awalnya biasa-biasa saja. Dengan sisa-sisa modal yang ada MR (Muhammad Rehman) menyewa apartmen dua kamar di Brooklyn. Dengan 6 anak tentu yang sudah dewasa, apartemen itu cukup padat. Anak-anaknya yang pria memilih tidur di kamar tamu (living room).

Hari-hari pun berlalu dan anak-anak masih taat beragama. Mereka rajin seolah di sekolah umum. Mereka masih ngaji dan sholat. Hingga semua selesai SMA. Bahkan dua di antara anak-anaknya selesai college. Saat itulah terjadi perubahan yang drastis. Seorang anaknya jadi polisi. Satu lagi kerja dengan imigrasi di bandara. Dua orang bahkan menjadi farmasis. Dua lainnya tidak disebutkan apa kerjaannya.

Sejak anak-anak pada bekerja, sang ayah (MR) menjadi gelisah. Anak-anak yang tadinya masih sholat, kini tidak mau lagi jika diingatkan untuk sholat. Bahkan dengan terang-terangan menyampaikan kepada ayahnya: “jangan bersikap kampungan. Kita Sudah tinggal di New York”.

Yang paling menyedihkan lagi, beberapa waktu kemudian isterinya ternyata ikut terpengaruh. Bahkan setiap kali MR berbicara kepada isterinya tentang kegelisahannya, sang isteri menjawab hal yang sama: “kita Sekarang bukan lagi di Bangladesh. Tidak usah terlalu peduli dengan hal-hal itu (Sholat dan agama).”.

Berbulan-bulan, bahkan bertahun, MR hanya bisa berdoa dan menangis. Hingga tahun lalu beliau kehilangan sabarnya dan meninggalkan rumahnya. Empat dari anak-anaknya telah duluan keluar dari apartemen itu. Sementara MR hanya bekerja sebagai penjaga grocery (toko kecil) milik warga Bangladesh dengan gaji minimum.

Yang paling menyedihkan adalah ketika meninggalkan apartemen itu sang isteri justeru meminta cerai. Maka di penghujung usianya itu ayah dan Ibu dari 6 anak itu juga resmi bercerai. Isteri tinggal bersama salah seorang anaknya. Sementara sang ayah saat ini menyewa sebuah kamar di rumah seorang warga Bangladesh di Jamaica Queens.

Baca Juga: Alhamdulillah, Kuota Haji Indonesia Bertambah

Sore itu saya menelusuri Hillside Avenue untuk menyapa sekaligus mengekspresikan dukungan kami kepada jamaah (komunitas). Tapi dengan cerita ini kami bagaikan disambar petit. Seolah ada beban berat yang yang terjatuh dari langit dan menimpa kami. Ada beban dan tanggung jawab moral untuk mencari solusi dari realita yang cukup mengiris hati itu.

Sambil menjabat tangannya saya permisi meninggalkan menuju mesjid. Hanya satu pesan: “jangan berhenti doakan anak-anaknya. Semoga Allah memberikan hidayahNya sehingga kembali menjadi anak-anak yang baik dan saleh”. Beliau mengangguk seraya minta: “doakan saya. Semoga saya dikuatkan”.

America, for many is the land of dreams. Walau mimpi itu tidak selamanya manis dan indah. Justeru bisa berubah menjadi “nightmare” (mimpi buruk) bagi sebagian imigran.

Baca Juga: Dugaan Korupsi, 2 Kades di Cianjur Berjamaah Ditangkap Aparat Penegak Hukum

Semoga Allah menjaga kita semua!

NYC Subway, 16 Mei 2023

Presiden Nusanatara Foundation
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB