opini

Cerita Sedih di Sebuah Sore Hari

Rabu, 17 Mei 2023 | 06:15 WIB
Cerita Sedih di Sebuah Sore Hari (Pixabay )


Oleh: Imam Shamsi Ali

Hillside Avenue di Jamaica Queens adalah sebuah jalan utama yang cukup masyhur, khususnya di kalangan masyarakat Asia Selatan yang juga dikenal dengan Komunitas IPB (Indian, Pakistani, Bangladesh). Di jalan inilah tumbuh subur dan berkembang bisnis-bisnis yang dimiliki oleh Komunitas Muslim. Dari toko-toko pakaian Muslimah, restoran hingga ke mini market bahan-bahan makanan halal (halal meat, dll).

Sekitar 1.5 blok dari jalan ini terletak Masjid Al-Mamoor atau yang lebih dikenal dengan Jamaica Muslim Center. JMC (Jamaica Muslim Center) adalah salah satu masjid dengan Komunitas terbesar di kota New York. Di Sholat Jumatan misalnya yang dilakukan dua kali, penuh dengan jamaah yang tidak kurang dari 2000 sekali putaran. Lebaran terbesar menurut estimasi sebagian orang adalah lebaran yang diorganisir oleh Jamaica Muslim Center.

Sebagai Imam (Community leader) di Komunitas ini, saya sekali-sekali berkeliling menyapa anggota komunitas atau jamaah Jamaica Muslim Center. Biasanya saya lakukan itu pada sore hari menjelang Sholat Magrib. Seringkali sambil menikmati segelas “chay” (Indian masala) dan samoza.

Di sebuah sore hari itulah, saya sedang duduk di sebuah “sweet cafe” (kedai kue-kue manis) sambil menikmati pesanan chay dan samboza. Tiba-tiba tanpa permisi seorang pria tua, dengan janggut putih yang agak kusut, wajah dan dahi yang nampak berkeriput, bahkan matanya seperti sedang terdampak alergi musim semi (merah) duduk di kursi depan saya.

“Kiya munasye?”, sapanya dalam bahasa Bangladesh, sambil mengulurkan tangannya ke arah saya untuk jabat tangan.

Baca Juga: Skuad Garuda Muda Bakal Diganjar Bonus Besar Jika Juara SEA Games 2023

Sambil menjabat tangannya saya jawab: “baluasyi”.

Beliau rupanya menyangka jika saya orang Bangladesh. Sudah sedemikian lama menjadi makmum, sering mendengarkan khutbah dan ceramah-ceramah saya. Tapi baru kali ini beliau berkesempatan menyapa langsung. Sehingga setelah sapaan di atas, beliau langsung berbicara dalam bahasa Bangladesh ke saya. Saya langsung respon: “I am sorry but I am not a Bengali” (Maaf saya bukan orang Bangladesh).

Saya memang telah lama menjadi Direktur sekaligus Imam di Komunitas ini.
Lebih 70 persen jamaahnya memang berlatar belakang Bangladesh. Sayang saya tidak terlalu terdorong untuk mempelajari bahasa mereka. Maka walaupun sejak tahun 2005 saya telah bersama mereka saya hanya mengerti beberapa kata, seperti “kiya munasyi” (apa kabar) dan “baluasyi” (saya baik).

Beliau pun dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas mengenalkan diri sebagai Muhammad Rehman. Dan menurutnya ingin menyampaikan sesuatu kepada saya, sekaligus minta didoakan. Satu hal yang menjadi ciri khas warga Bangladesh adalah cukup percaya (trust) dan hormat (respek) kepada ulamanya.

Beliau menyampaikan bahwa dia telah tinggal di negara ini (Amerika) sekitar 15 tahun. Sekarang umurnya Sudah 73 tahun. Sebelum tinggal di Amerika beliau pernah tinggal dan kerja di Riyadh, Saudi Arabia. Di Saudi Arabia beliau bekerja sebagai penjaga rumah keluarga Saudi, yang menurutnya sangat kaya tapi baik.

Ketika saya mengenalkan diri bahwa saya juga pernah tinggal di Saudi, beliau merubah bahasanya dari Inggris ke bahasa Arab yang juga sangat tertatih-tatih. Dengan mata yang nampak merah, entah karena alergi atau karena kurang tidur, beliau menyampaikan pengalaman pahit yang sedang dialaminya.

Baca Juga: Dugaan Korupsi Kementerian Komunikasi dan Informatika Rugikan Negara Rp8 Trilyun

Muhammad Rehman adalah seorang suami dan ayah dari 6 orang anak. Ketika bekerja di Saudi anak isterinya ditinggal di Bangladesh. Hingga sekitar 16 tahun lalu dia mendapatkan green card melalui sistem lottery. Maka keluarga sepakat untuk pindah ke US untuk mengadu nasib di kepulauan impian (land of dream) ini.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB