Terbentuknya dimensi vertikal “ihsan” pada diri seseorang ini akan mampu membangun dimensi horizontal ihsan dalam kehidupannya. Dimensi horizontal ihsan inilah yang terekspresi dalam prilaku fisikal atau karakter seseorang.
Ketika seseorang itu berbuat baik (ihsan horizontal) maka perbuatannya tidak terlepas dari kesadaran akan kehadiran Allah (ihsan vertikal). Sehingga perbuatannya dalam segala bentuknya terilhami oleh nilai-nilai samawi (dimensi vertikal ihsan) itu. Ikatan nilai-nilai samawi ini yang menjadikannya selalu dalam karakter yang benar, baik, indah, nyaman dan memberikan rasa aman.
Karaktwr yang terlahir dari Al-Ihsan itulah yang dalam agama dikenal dengan “Makarim Al-Akhlaq”. Yaitu karakter mulia yang secara mendasar menjadi esensi religiositas seseorang. Bahkan makarimul akhlaq ini menjadi kesimpulan dari misi Dakwah Rasulullah SAW. Seperti yang beliau sabdakan: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”.
Semoga Ramadan kita penuh dengan berbagai keberkahan, termasuk keberkahan dengan terbentuknya prilaku yang lebih baik. Sehingga puasa yang kita lakukan tidak termasuk “puasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga” (hadits).
Atau jangan sampai puasa kita adalah puasa yang tidak diinginkan oleh Allah, seperti yang disabdakan Rasulullah: “barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan mauoun perbuatan buruk, maka tiada hajat bagi Allah untuk dia tinggalkan makan dan minum”. (Hadits).
Jamaica Hills, 25 Maret 2023
Presiden Nusantara Foundation