Baca Juga: Prof. KH. Ali Yafie, Sosok Ulama Tradisionalis yang Inklusif-Modern
Menjadi anggota Kongress Amerika juga bukan jalan mudah. Ternyata konstestasi beliau untuk menjadi anggota Kongress adalah kontestasi termahal. Untungnya beliau mendapat dukungan penuh dari konstituen beliau.
Termasuk dukungan dari banyak pihak, termasuk Komunitas Muslim dan Afrika secara umum. Sebenarnya acara malam itu juga bagian dari penggalangan dana untuk campaign beliau.
Setelah terpilih juga sangat tidak mudah. Di antara tantangan itu adalah karena beliau satu-satunya anggota Kongress Muslimah dan berhijab. Artinya mau atau tidak, keislaman itu sangat visible (nampak).
Dan ini akan menemukan reaksi negatif dari sebagian anggota Kongress yang masih rasis dan Islamophobik. Bahkan sebagian dari anggota partainya sendiri (Demokrat).
Beliau mengisahkan bahwa pernah dalam elevator ada seorang anggota Kongress yang berbisik ke telinganya: “you don’t deserve to be here” (kamu ngak berhak ada di sini).
Beliau hadapi semua itu dengan kesabaran (kekuatan, bukan kelemahan). Keadaan itu tidak menjadikan beliau lemah dan putus asa. Bahkan beliau terpilih menjadi anggota komite Hubungan Luar Negeri, salah satu komisi yang bergengsi dan terhormat. Posisi inilah yang kemudian beliau jadikan pintu untuk menyuarakan banyak pihak yang termarjinalkan. Termasuk kaum Uighur di China, Kashmir dan Muslim India, hingga ke Umat Muslim Yaman dan tentunya yang klasik isu bangsa Palestina.
Selain tegas dalam membela hak-hak mereka yang termarjinalkan beliau berhasil membangun koalisi di antara anggota Kongress. Koalisi ini memiliki mindset yang sama tentang hak-hak kaum yang termarjinalkan, termasuk bangsa Palestina. Karenanya memang diakui bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan itu. Sebagian anggota Kongress, walau minoritas, semakin terbuka mengeritik kesemena-menaan Israel terhadap bangsa Palestina. Sesuatu yang pada masa-masa lalu dianggap tabu dan anti Amerika.
Baca Juga: Sri Mulyani Minta Jajaran Pegawai Pajak Jaga Kepercayaan Publik
Dalam sesi diskusi saya mengafirmasi perubahan itu. Bahkan saya menekankan bahwa keadaan bangsa Palestina yang semakin runyam saat ini disebabkan oleh sikap sebagian negara-negara Muslim yang memilih berkompromi dengan Israel. Kita kenal beberapa negara mayoritas Muslim telah menanda tangani hubungan diplomatik dengan Israel. Dan ini semakin membuka pintu bagi Israel untuk menekan dan membumi hanguskan bangsa Palestina.
Menjawab pertanyaan saya tentang mana yang lebih efektif dalam upaya membela bangsa Palestina. Apakah tetap memboikot hubungan diplomasi atau membangun hubungan diplomasi seraya memperjuangkan hak kemerdekaan mereka?
Secara diplomasi beliau menjawab bahwa “masalah itu kembali kepada masing-masing negara berdasarkan keadaan dan kepentingannya”. Tapi beliau mempertanyakan: “apakah Israel akan semakin rela memberikan hak-hak Palestina setelah negara-negara Islam membangun hubungan diplomasi?”.
Saya baru tersadarkan bahwa posisi tegas Ilhan inilah yang menjadi alasan bagi sebagian untuk menuduhnya dengan “anti semit” atau anti Yahudi. Ternyata bagi sebagian orang mengeritik Israel sama dengan mengeritik kaum Yahudi. Sebuah sikap yang tentunya tidak rasional. Sebab mengeritik kebijakan pemerintah tidak harus identik dengan kritikan kepada agama.
Dalam isu Yaman beliau secara terbukan mengatakan bahwa beliau mendapat tekanan dari Saudi Arabia karena kritikan kepada Saudi yang melakukan serangan militer ke Yaman yang berakibat fatal seperti saat ini. Beliau menyampaikan bahwa tekanan Saudi itu justeru dirasakan melalui lawan-lawan politiknya di Kongress.
Satu cerita juga yang beliau sampaikan yang secara pribadi cukup mengganggu adalah ketika beliau mengundang beberapa Dubes Asean, termasuk Indonesia, untuk membicarakan kaum Uighur. Ilhan meminta negara-negara Muslim Asean minimal membuat statemen atau meminta klarifikasi tentang camp-camp konsentration China. Ternyata tak satupun yang bersedia melakukan itu.