opini

Islamophobia di Eropa dan Amerika

Selasa, 21 Februari 2023 | 21:53 WIB
Ilustrasi Islamphobia (Ist)


Oleh: Imam Shamsi Ali

Di akhir pekan kemarin dilangsungkan sebuah diskusi yang membahas tentang Islamophobia di Eropa dan Amerika Serikat. Dikskusi ini menghadirkan pembicara dari dua benua, Eropa dan Amerika, sehingga disebut “Trans-Atlantic Dialogue”. Dari US selain saya, juga Imam Mustofa, seorang Imam di Texas kelahiran Inggris. Dan dari Eropa hadir sebagai nara sumber Emel El Filker dari Jerman dan Zara Muhamad dari Skotland yang juga Sekjen Council of British Muslim.

Yang menarik juga adalah moderator dari diskusi ini adalah Miryam Francois, seorang TV anchor, film maker, dan aktifis dalam bidang kemanusiaan. Dia adalah seorang wanita Muslimah kelahiran Prancis yang cukup dikenal di kalangan masyarakat Eropa dan Inggris khususnya.

Hampir semua pembicara sepakat bahwa Islamophobia di Barat, Eropa dan Amerika, memang nyata dan dari masa ke masa terus eksis. Dan karenanya upaya untuk menutupi kenyataan ini terus dilakukan dengan mengalihkan perhatian masyarakat dunia. Salah satunya dengan menciptakan situasi di mana masyarakat Muslim justeru terparangkap ke dalam prilaku yang dianggap berbahaya dan ancaman (threat).

Baca Juga: Pedestrian Cianjur di Jalan Siliwangi, Habiskan Dana Ratusan Juta Rupiah

Menanggapi realita itu saya kembali menekankan bahwa sesungguhnya hal terbesar yang Umat Islam hadapi saat ini adalah peperangan opini. Bukan peperangan Ukrain vs Rusia. Peoerangan opini inilah yang membentuk persepsi. Dan siapa yang memenangkan peperangan ini merekalah yang akan mengontrol “mindset” (cara pandang) manusia. Dan cara pandang inilah kemudian yang membentuk prilaku terhadap semua hal. Termasuk terhadap agama dan Umat ini.

Menjawab pertanyaan moderator tentang penyebab Islamophobia semua pembicara menyampaikan pandangan. Emel dari Jerman misalnya menegaskan bahwa Islamophobia disebabkan oleh ketidak tahuan. Mustofa dari Texas menekankan faktor sejarah, yang kemudian saya kuatkan dengan pengalaman saya sewaktu berkunjung ke 9 negara Eropa sebelum Pandemi di tahun 2020 lalu.

Saya menyampaikan kasus yang saya alami di Bratislava, Ibukota Slovakia. Di kota ini bahkan kata Turkish yang kuat dikaitkan dengan Ottoman Empire sangat ditakutkan. Sampai-sampai kopi Turki tidak boleh dinamai “Turkish Coffee”. Tapi disebut dengan “Special coffee.”

Selain faktor sejarah dan kebodohan memang diakui bahwa Islamophobia memang menjadi kendaraan banyak kepentingan. Selain kepentingan politik, Islamophobia juga menjadi kendaraan kepentingan capital. Hal ini terlihat dengan dukungan media yang digandengi oleh pemilik modal meraup keuntungan dengannya. Bahkan sesungguhnya Islamophobia saat ini telah berwujud bisnis dan sumber penghasilan bagi sebagian orang. Kira-kira mirip dengan jalan hidup para buzzer di negara sana.

Baca Juga: Negara-Negara Tarik Bantuan dari Turki, Lantaran Situasi Tidak Aman

Ada satu poin yang cukup hangat diperdebatkan dalam diskusi itu. Ketika saya ditanya tentang solusi atau cara menghadapi Islamophobia di Eropa dan Amerika, saya menekankan salah satunya dengan urgensi menjadi bagian dan berperan signifikan dalam kehidupan mainstream masyarakat.

Istilah lain dari hal ini adalah pentingnya Komunitas Muslim di Barat untuk melakukan integrasi secara positif ke dalam masyarakat dan memainkan peranan signifikan yang akan dirasakan sebagai kontribusi kepada masing-masing negara.

Kontan saja poin saya ini mendapat respon yang ragam. Ada yang mendukung tapi tidak sedikit juga yang kurang setuju. Zara dari Inggris misalnya mengatakan: “apakah kita harus membuktikan bahwa kita orang Inggris untuk dihormati?”. Ada juga yang mengkhawatirkan bahwa integrasi justeru akan melemahkan keimanan dan identitas keislaman umat di Barat.

Dalam respon saya tegaskan bahwa menjadi bahagian dan berperan aktif dalam kehidupan publik tidak harus dimaknai sebagai “asimilasi” atau lebur ke dalam masyarakat sekitar tanpa menjaga keyakinan, nilai-nilai (values) serta identitas kita sendiri. Justeru yang saya maksudkan adalah “be a part of the mainstream while preserving our own particularities” (menjadi bagian dari mainstream dengan menjaga kekhususan-kekhususan kita”.

Ada dua dasar keagamaan yang mendasari poin saya di atas:

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB