JOURNALNUSANTARA.COM - Merindukan gelar hamba yang saleh di hadapan Allah Ta’ala adalah cita-cita tertinggi setiap mukmin. Salah satu tanda keimanan yang sejati adalah ketika seseorang mampu merutinkan shalat malam di saat manusia lain sedang terlelap tidur. Kebiasaan mulia ini merupakan cerminan dari hati yang bersih dan rindu akan penciptanya.
Allah Ta’ala bahkan memuji hamba-hamba-Nya yang pilihan dalam Al-Quran karena mereka rela menghabiskan malam dengan bersujud dan berdiri. Mereka adalah golongan ibadurrahman yang mendapatkan tempat istimewa. Namun, kenyataannya banyak di antara kita yang masih merasa sangat berat untuk sekadar bangun dan berwudhu di sepertiga malam.
Ket ketidaksanggupan kita untuk bangun malam seringkali bukan karena faktor fisik yang lelah belaka. Ada penghalang tak kasat mata yang mengikat tubuh kita dari melakukan ketaatan tersebut. Penghalang besar itu bisa jadi adalah tumpukan dosa dan maksiat yang kita lakukan sepanjang siang hari.
Sebagaimana petuah bijak dari ulama besar Hasan Al-Basri, dosa memiliki dampak langsung yang melemahkan ruhani kita. Ketika seseorang terbiasa berbuat dosa, ia akan diharamkan atau dijauhkan dari nikmatnya mendirikan shalat malam. Dosa-dosa tersebut mengikat hati dan memberatkan langkah kaki untuk menghadap-Nya.
Oleh karena itu, sulitnya bangun malam seharusnya menjadi alarm keras bagi spiritual kita. Ini adalah momen yang tepat untuk berkaca dan menghitung kembali berapa banyak kesalahan yang telah kita perbuat. Sangat tidak sejalan jika kita mengaku ingin menjadi saleh, namun malam-malam kita sepi dari ruku dan sujud.
Mari kita jadikan renungan ini sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan memperbanyak istighfar. Semoga Allah Ta’ala berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan mengikis segala penghalang yang ada. Ridha dan kemudahan dari-Nya lah yang akan menuntun kita untuk kembali istiqamah menghidupkan malam-malam yang penuh berkah.