Pagi (08.00-09.30) - Musyawarah Proyek: Siswa mempresentasikan progres sistem filter air. Dewan Kokolot memberikan wejangan dan masukan terkait tradisi ngajaga cai.
Siang (09.30-12.00) - Laboratorium: Siswa melakukan uji coba filter, menghitung kalkulasi biaya, dan membedah unsur kimia air.
Siang (13.00-15.00) - Lapangan: Wawancara langsung dengan warga mengenai sejarah mata air setempat, kemudian direkam menjadi podcast berbahasa Sunda.
Sore (15.00-16.00) - Refleksi: Siswa menulis jurnal harian tentang esensi silih asuh yang mereka pelajari hari itu.
Catatan Penutup & Ruang Diskusi
Konsep Pendidikan Ki Sunda Kontemporer ini memang membutuhkan investasi sosial yang tinggi di awal karena melibatkan banyak pemangku kepentingan, bukan bertumpu pada pembangunan fisik gedung. Namun, dalam jangka panjang model ini akan jauh lebih efisien karena dampaknya langsung dirasakan oleh komunitas dan warga sekitar.
Tentu ada peluang untuk menyederhanakan konsep ini agar bisa berjalan secara mandiri tanpa melibatkan terlalu banyak orang di fase awal, dengan catatan tidak mengikis nilai-nilai substansial di dalamnya.
Namun, cetak biru pendidikan Ki Sunda Kontemporer ini masih memerlukan kajian mendalam pada beberapa aspek:
Penjenjangan: Apakah model ini paling ideal dimulai dari tingkat PAUD/TK, atau justru lebih efektif jika diterapkan secara bertahap dari tingkat SD hingga SMA/SMK?
Sinkronisasi Regulasi: Bagaimana taktik terbaik untuk menyelaraskan struktur kurikulum berbasis komunitas ini agar tetap adaptif dan sejalan dengan Kurikulum Nasional?
Salam budaya,
Sumber: Diolah dari berbagai sumber