Metode Pengajaran: “Paseban Digital”
Mengadopsi struktur paseban tradisional yang dimodernisasi.
Elemen LamaVersi KontemporerDeskripsiKokolotMentor Lintas GenerasiKolaborasi mengajar antara 1 guru akademik, 1 sesepuh adat, dan 1 praktisi profesional.MusyawarahForum Proyek MingguanSiswa mempresentasikan progres dan menerima kritik dari warga, mentor, serta teman sejawat.Saung LisungLab ProduksiBengkel kerja nyata: kebun, studio desain, lab IT, hingga dapur uji coba produk.Carita PantunStorytelling DigitalSiswa wajib mendokumentasikan proyek dalam bentuk video, podcast, atau komik digital berbahasa Sunda.
Prinsip utama metode ini meliputi:
Belajar Berbasis Masalah: Tidak dimulai dari teori, melainkan dari fenomena riil. Contohnya: “Kenapa sungai ini keruh?” dari sana siswa mulai menggali aspek sains, hukum, dan sejarahnya.
Pembelajaran Magang: Siswa magang satu hari dalam seminggu di bengkel, sawah, kantor desa, atau UMKM terdekat.
Penilaian Holistik: Bobot nilai dibagi atas 40% portofolio proyek, 30% peer review dan penilaian warga, 20% presentasi publik, serta 10% tes konsep.
Struktur Organisasi Sekolah/Pusat Belajar
Struktur sekolah tidak dibuat kaku, melainkan mengadopsi model Sanggar Komunitas atau Kamandalaan Kecil.
Dewan Kokolot: Terdiri dari 5-7 orang sesepuh, praktisi, dan akademisi yang bertugas menjaga arah nilai, menjadi juri akhir proyek, serta menyelesaikan konflik.
Fasilitator: Guru yang berperan mendesain pengalaman belajar dan menjembatani siswa ke para mentor, bukan sekadar mengajar di depan kelas.
Siswa sebagai Anggota Komunitas: Usia siswa dicampur tanpa sekat kelas yang kaku. Anak usia 12 tahun bisa bekerja bareng dengan mahasiswa (opsional).
Warga sebagai Kurikulum: Nelayan, petani, pengrajin, hingga bidan desa memegang peran sebagai dosen tamu tetap yang mendapatkan honor profesional untuk mengajar.
Sistem Penilaian & Kelulusan
Sistem evaluasi beralih dari model rapor angka konvensional: