JOURNALNUSANTARA.COM - Belakangan ini, suhu udara terasa begitu menyengat kulit. Matahari seolah berada tepat di atas kepala kita. Aktivitas di luar ruangan menjadi tantangan berat bagi fisik yang lemah ini.
Banyak dari kita yang mengeluh karena gerah yang luar biasa. Kipas angin dan pendingin ruangan seakan tidak pernah cukup untuk mendinginkan suasana. Kita sibuk mencari tempat berteduh untuk sekadar melepas penat dari sengatan panas dunia.
Namun, mari kita sejenak merenung di balik keringat yang bercucuran. Jika panas dunia yang hanya sekian derajat ini sudah membuat kita gelisah, bagaimanakah dengan panas di akhirat nanti?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengingatkan kita semua. Beliau bersabda bahwa api yang kita gunakan di dunia ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka jahannam.
Bayangkan betapa dahsyatnya panas yang tersimpan di sana. Api dunia yang paling membara sekalipun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan siksa di neraka. Di sana, tidak ada tempat berteduh dan tidak ada air yang menyegarkan.
Panasnya matahari saat ini seharusnya menjadi pengingat atau tadzkirah bagi kita. Allah sedang memberikan sedikit gambaran agar kita kembali bersujud dan memohon ampunan-Nya.
Jangan sampai kita hanya sibuk mendinginkan fisik, namun lupa mendinginkan hati dengan zikir. Jangan sampai kita takut terbakar matahari, namun abai terhadap amalan yang menjauhkan kita dari api neraka.
Setiap tetes keringat saat melangkah menuju kebaikan dalam cuaca panas adalah saksi keimanan. Kesabaran kita dalam menjalankan ketaatan di tengah teriknya cuaca akan berbuah manis di surga nanti.
Mari kita jadikan momen cuaca panas ini sebagai pemacu semangat untuk berbenah. Kita berlindung kepada Allah dari panasnya api neraka yang tiada bandingannya. Semoga Allah menjaga kita semua dan mengumpulkan kita di bawah naungan Arsy-Nya kelak. Amin.
Oleh: Tim Media DKM Al-Muhajirin, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur