Oleh: Muhammad Ilyas Ismail
Ramadhan sering kali datang sebagai tamu agung yang kita sambut dengan gegap gempita fisik, namun jiwa kita justru masih tertinggal di belakang.
Kita sibuk menyetok makanan di dapur, tapi lupa membersihkan ruang tamu di dalam hati.
Padahal, inti dari Ramadhan bukan sekadar perpindahan jam makan, melainkan sebuah proyek "Reset Total" bagi manusia untuk kembali ke bentuk terbaiknya (Ahsani Taqwin).
Menjelang fajar pertama Ramadhan, bulan Sya’ban memberikan jeda kritis bagi kita untuk melakukan audit spiritual. Mengapa persiapan ini harus dimulai sekarang?
Karena memori hati yang penuh, secara teologis dan psikologis, mustahil menanam benih ketakwaan di atas tanah batin yang masih penuh dengan semak belukar dendam dan gangguan.
Berikut adalah penjelasan yang menggabungkan seluruh rangkaian persiapan kita, mulai dari memori hati yang penuh cache kebencian, landasan teologis hingga aksi nyata dengan gaya bahasa yang segar namun tetap mendalam.