opini

Ketika Perbedaan Menjadi Kekuatan

Kamis, 25 Desember 2025 | 16:34 WIB
Ilustrasi toleransi (Unsplash/Duy Pham)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Apakah perbedaan memang ditakdirkan untuk dipertentangkan, atau justru untuk disatukan?

Mengapa sesuatu yang lahir dari kehendak Tuhan sering kali berujung pada pertengkaran manusia?

Dan di tengah dunia yang kian gaduh oleh klaim kebenaran, masihkah kita mampu melihat perbedaan sebagai rahmat, bukan ancaman?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak kita berhenti sejenak dari kebiasaan menghakimi, lalu menundukkan hati untuk merenung.

Sebab perbedaan bukanlah kecelakaan sejarah, melainkan ketetapan Ilahi yang sarat makna.

Dunia tidak diciptakan dengan satu warna, satu suara, dan satu cara pandang. Justru dalam keragaman itulah kehidupan menemukan dinamika dan keseimbangannya.

Allah berfirman dengan sangat jelas:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan perbedaan bukanlah untuk saling meniadakan, tetapi untuk saling memahami.

Namun dalam praktik kehidupan sosial, perbedaan sering kali kehilangan maknanya. Ia berubah menjadi alat pembeda kasta, bahan bakar konflik, bahkan pembenaran untuk menyingkirkan yang lain.

Padahal, setiap perbedaan adalah potongan mozaik yang bila disusun dengan kesadaran akan membentuk keindahan.

Seperti anyaman, kekuatannya tidak lahir dari satu helai benang, tetapi dari pertautan banyak helai yang saling menguatkan. Benang yang berdiri sendiri mudah putus, tetapi ketika disatukan, ia mampu menahan beban.

Rasulullah SAW. mengingatkan kita tentang nilai persaudaraan dan keterikatan sosial:
lالْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, saling menguatkan satu sama lain.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Bangunan tidak mungkin kokoh jika seluruh batunya sama bentuk dan ukurannya. Ia justru kuat karena perbedaan fungsi setiap bagian.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB