opini

Kerakusan Elit Kekuasaan, Akar Bencana Deforestasi dan Krisis Moral Ekologis

Minggu, 30 November 2025 | 06:40 WIB
Menyoroti fakta terkini bencana alam akibat cuaca ekstrem yang melanda ((Dok. BNPB))

Oleh: M. Iya Suryadi (Kader GP Ansor Asal Cianjur)

Krisis deforestasi di negeri ini bukanlah sekadar masalah ekologis biasa. Ia adalah cerminan telanjang dari kegagalan moral dan tata kelola yang dipicu oleh kerakusan kekuasaan. Ironisnya, hutan yang seharusnya menjadi paru-paru dunia dan benteng pertahanan alami kita, kini beralih fungsi menjadi medan pertempuran bagi segelintir pejabat rakus dan kroni-kroni korporasinya.

Di balik izin-izin konsesi dan alih fungsi lahan yang mudah dikeluarkan, terdapat praktik eksploitasi alam yang brutal, ugal-ugalan, dan tidak berkelanjutan. Hutan tropis yang kaya biodiversitas dan memerlukan ribuan tahun untuk terbentuk malah ditebang habis hanya dalam hitungan bulan, demi keuntungan jangka pendek dari komoditas seperti kelapa sawit, pertambangan, atau monokultur lainnya. Alam diperlakukan bukan sebagai warisan yang harus dijaga, melainkan sebagai objek habis pakai yang nilainya hanya diukur dari seberapa cepat ia dapat dikonversi menjadi uang.

Konsekuensi dari perlakuan ini tidak menunggu lama. Ketika fungsi ekologis hutan dihancurkan, maka bencana alam yang lebih besar dan lebih sering terjadi adalah keniscayaan. Hutan berfungsi sebagai spons alami yang menyerap dan menahan air. Ketika hutan gundul, air hujan langsung meluncur deras, memicu banjir bandang dan tanah longsor yang menelan korban jiwa dan menghancurkan infrastruktur.

Deforestasi juga memperburuk krisis iklim, tidak hanya secara global, tetapi juga secara lokal, menyebabkan kekeringan panjang dan mengganggu siklus hidrologi. Masyarakat adat dan komunitas lokal yang bergantung pada hutan kehilangan mata pencaharian, sumber pangan, dan identitas budaya mereka, menjerumuskan mereka ke dalam kemiskinan struktural.

Pada akhirnya, bencana deforestasi ini adalah bencana moral yang ditimbulkan oleh segelintir elit yang mengutamakan harta di atas nyawa, masa depan, dan kedaulatan alam. Sudah saatnya penegakan hukum diarahkan tanpa pandang bulu kepada aktor intelektual di balik deforestasi ini, karena tanpa hutan, tidak ada masa depan yang bisa kita wariskan.

Salah satu contoh besar dari bencana yang saat ini disorot oleh kacamata internasional adalah kasus bencana di Sumatera. Banjir besar di sana bukan melulu disebabkan oleh hujan yang secara berturut-turut, akan tetapi ada kausalitas terhadap hutan yang berada di kawasan tersebut dieksploitasi oleh ulah manusia.

Dalam buku yang berjudul Ekoteologi Islam Konsepsi dan Implementasi terdapat berbagai tamparan keras bagi manusia yang memiliki sifat rakus, apalagi menguntungkan bagi segelintir kelompok. Konsepsi terhadap pelestarian alam, bukan deforestasi, adalah bentuk kita untuk menjaga, merawat, dan melestarikan bagi kehidupan yang berlangsung serta berkelanjutan.

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB