opini

Definisi Sukses Versi Purbaya: Mati Masuk Surga

Selasa, 14 Oktober 2025 | 14:31 WIB
Potret Pak Purbaya dengan kebijakan penolakan untuk menggunakan APBN mengenai kereta cepat Whoosh yang menjadi sorotan akibat utang membengkak hingga Rp116 triliun. ( (Instagram/@purbayayudhi_official))

Dengan demikian, sukses bukanlah tentang seberapa banyak kita mengambil dari dunia, tetapi seberapa banyak kita memberi kepada dunia dengan niat karena Allah.

2. Perspektif Ilmiah dan Psikologis: Transendensi sebagai Puncak Aktualisasi

 

Dalam teori psikologi modern, khususnya piramida kebutuhan Abraham Maslow, puncak kebutuhan manusia pada fase akhir hidupnya bergeser dari aktualisasi diri menjadi transendensi kebutuhan untuk melampaui diri sendiri dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar, yakni Tuhan atau makna hidup yang luhur.

Maslow menyadari bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar bahagia hanya dengan pencapaian material. Kebutuhan spiritual, rasa makna, dan kontribusi sosial merupakan unsur utama kebahagiaan yang otentik.

Oleh karena itu, ketika Purbaya menyebut “mati masuk surga” sebagai definisi sukses, ia sesungguhnya sedang menegaskan puncak kesadaran transendental—titik tertinggi di mana seseorang menilai hidupnya bukan dari pencapaian finansial, tetapi dari nilai moral, kebermanfaatan, dan keikhlasan amal.

3. Sukses Dunia: Kendaraan Menuju Akhirat

 

Islam tidak menolak sukses dunia. Justru, dunia adalah ladang amal. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Dunia adalah ladang bagi akhirat.”

Artinya, setiap kesuksesan duniawi kekayaan, ilmu, jabatan, kekuasaan menjadi bermakna hanya bila digunakan untuk menebar manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah.

Orang kaya yang dermawan, pejabat yang adil, pengusaha yang amanah, mereka semua sedang menanam benih sukses akhirat melalui peran duniawi mereka.

Sebagaimana firman Allah:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menegaskan keseimbangan: dunia bukan tujuan, tetapi kendaraan menuju surga.

4. Transformasi Konsep Sukses: Dari Ego ke Makna

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB