opini

Kajian Islam Jadi Wisata Religi, Kenapa Tidak?

Minggu, 22 Juni 2025 | 17:19 WIB
Masjid Agung Cianjur menjadi masjid yang seringkali didatangi pendatang baik dari dalam maupun luar kota. (YouTube Ardi Liong)

Opini oleh: Julian Faluzia

Journalnusantara.com, Cianjur – Hari ini, Minggu, 22 Juni 2025, Masjid Agung Cianjur kembali menjadi lautan manusia. Ribuan jamaah tumpah ruah menghadiri Majlis Akbar Gema Muslimah Cianjur bersama penceramah nasional, Ustadzah Halimah Alaydrus, yang hadir menyapa dan menginspirasi umat, mulai pukul 14.00 WIB.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majelis Taklim Sahabat Hijrah Radya, di bawah pimpinan Bunda Kikiez, dengan dukungan penuh dari pengurus DKM Masjid Agung Cianjur. Sejak pagi, masjid yang berkapasitas sekitar 5.000 orang ini sudah mulai dipadati jamaah.

Hingga menjelang siang, gelombang manusia terus berdatangan. Diperkirakan lebih dari 10.000 jamaah memadati kawasan Masjid Agung dan Alun-alun Cianjur.

Dampak Positif: Dari Spiritual ke Sosial Ekonomi

Kegiatan semacam ini jelas membawa dampak positif, tak hanya dalam dimensi spiritual, tetapi juga sosial dan ekonomi. Para pelaku UMKM lokal di sekitar alun-alun ikut merasakan manfaat langsung: dagangan ramai, perputaran ekonomi menggeliat.

Bahkan, secara tidak langsung, kegiatan ini juga memperkuat branding Alun-alun Cianjur sebagai ikon kota yang hidup dan berkarakter.

Wisata Religi: Potensi yang Belum Digarap Maksimal

Melihat antusiasme masyarakat, bukankah sudah saatnya kajian Islam seperti ini diformulasikan sebagai bagian dari wisata religi? Kegiatan keagamaan massal bisa menjadi magnet wisata spiritual, terutama bagi kaum urban yang haus ketenangan dan makna.

Apalagi, kegiatan ini murah meriah tapi penuh makna—menggabungkan kekuatan ruhani, silaturahmi, dan potensi ekonomi warga lokal. Tinggal bagaimana sinergi antara pemerintah, DKM, pelaku seni budaya, dan komunitas hijrah bisa terjalin lebih erat.

Butuh Sinergitas dan Kolaborasi Semua Pihak

Cianjur sudah punya modal: lokasi strategis, ikon religi, dan masyarakat yang religius. Maka, langkah selanjutnya adalah mengelola potensi ini secara profesional. Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku pariwisata, komunitas Islam, dan UMKM, wisata religi bukan hanya bisa dijalankan, tapi juga jadi andalan.

Mari jadikan kajian Islam bukan sekadar kegiatan mingguan, tapi juga bagian dari denyut kota yang menginspirasi. Wisata religi bukan sekadar ziarah makam, tapi juga ziarah ilmu. Kajian Islam? Kenapa tidak jadi wisata religi?

Salam budaya

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB