Sedangkan Rabiah al-Adawiyah mengajarkan bahwa bulan suci memberi ruang untuk mendalami hakikat cinta sejati. Sebuah cinta yang melampaui hitungan pahala dan dosa. Sebuah cinta yang berakar pada keikhlasan yang sejati.
Pendapat para sufi tersebut menggambarkan, "Bulan suci adalah sungai jernih yang mengalir di tengah gurun kehidupan." Dalam sungai itu, kita diberi kesempatan untuk membasuh dosa. Menyelami kedalaman diri, dan menemukan kembali kesejatian yang mungkin telah lama terabaikan.
Kita belajar bahwa keheningan dalam bulan suci memiliki suara. Sementara dalam suara itu, ada panggilan Tuhan yang mengajak untuk kembali kepada-Nya. Menyapa dengan lembut, mengajak kita bersiap menulis lembaran baru.
Pertanyaannya adalah masihkah kita bertahan dalam kegelapan lama, dan takut melangkah menuju terang? Jawabannya ada di hati dan pikiran kita, yang bergetar ketika menyebut nama-Nya di setiap nafas yang penuh harap. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghazali, "Hati yang terjaga adalah hati yang tidak menyia-nyiakan panggilan Tuhan."
Jadi, bulan suci bukan sekadar bulan. Ia adalah undangan buat manusia untuk terlahir kembali, menjadi hamba yang lebih dekat dengan cahaya-Nya. Oleh sebab itu, marilah kita genggam kesempatan ini, sebelum bulan suci berlalu. Agar kita kembali menjadi debu yang berharga di hadapan Sang Pencipta.
*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.