opini

Bersabar dan Bersyukur

Kamis, 13 Maret 2025 | 12:48 WIB
Ilustrasi - Syukur Atas Perbuatan Tuhan (TPJ - Image by Pexels from Pixabay)


Oleh: Agung Wibawanto

Mengapa di saat kita lemah, tidak memiliki apa-apa dan bukan siapa-siapa bisa jauh lebih sabar ketimbang di saat kita berkuasa dan memiliki segalanya? Namun sebaliknya, kita jauh kurang bersyukur saat kita terjatuh (artinya, tidak memiliki apa-apa)?

Tidak perlu jauh-jauh membayangkan. Di bulan ramadhan ini, bisa dikatakan kita sedang dilatih plus belajar bagaimana menjadi sabar dan selalu bersyukur. Mungkin mudah untuk bersabar tidak makan dan minum karena mengikuti aturan dan mungkin sudah terbiasa (bagi sebagian orang yang hidup tidak berkecukupan).

Namun, kadang kita yang sedang berpuasa lupa untuk bersyukur. Di tengah ujian menahan diri dari segala keburukan dan keserakahan, kita mengeluh. Kita lupa masih banyak orang yang jauh lebih susah dibanding yang kita rasakan saat berpuasa. Orang yang miskin ekstrim bahkan lebih sehari berpuasa tidak makan/minum.

Orang miskin juga tidak boleh dan tidak "berhak" marah tidak diterima berobat karena miskin, misalnya. Dan masih banyak lagi orang dengan kategori lebih susah daripada kita. Jadi, rasa syukur harusnya lebih diutamakan di saat kita memang sedang berada di bawah, di saat kita tidak memiliki apa-apa.

Bagaimana dengan orang yang serba kecukupan? Diberi rezeki yang jauh lebih banyak ketimbang yang lainnya. Atau, jika dimisalkan orang berpuasa, maka kondisi itu disamakan pada saat berbuka puasa. Kita yang sudah sedari tadi seharian menahan lapar dan haus, tiba-tiba tidak kuasa menahan diri.

Bahkan sebelum berbuka atau mendekati berbuka sudah tidak sabar menunggu sambil membayangkan bagaiman air es buah, kolak, dan berbagai jenis makanan, akan disantap. Begitu waktunya berbuka, kita benar-benar tidak sabar lagi mengkonsumsi segalanya. Gelap mata. Mengapa? Karena ada kesempatan dan kemampuan.

Sebagian, meski ada kesempatan, artinya sudah dibolehkan makan/minum namun karena tidak memiliki kemampuan (tidak punya uang), maka hanya berbuka ala kadarnya. Ia masih bisa menahan kesabarannya. Jadi, kita justru sulit menahan rasa sabar di saat kita memiliki kesempatan ataupun kemampuan.

Ada nasehat bijak yang mengatakan, "Ujilah (kesabaran) seorang laki-laki dengan memberinya kekuasaan." Apa artinya, cara untuk mengetahui tingkat kesabaran orang (laki-laki terutama) adalah di saat ia berkuasa. Berkuasa dalam artian di setiap sektor, misal: jadi bos perusahaan, jadi mandor, jadi pengawas, jadi orang kaya, bahkan jadi kepala keluarga.

Karena pada dasarnya, orang yang memiliki segalanya cenderung memiliki tingkat kesabaran yang rendah (hasil penelitian). Mereka akan larut dalam kekuasaan yang dimilikinya alias aji mumpung. Di saat kita memegang uang banyak, kita tidak sabar membeli ini dan itu (ketimbang kita tidak memiliki).

Apakah yang menyebabkan ketidaksabaran itu muncul? Ada 3 faktor utama, yakni:
1. Ada niat. Kalau dalam bahasa hukumnya ada mens rea nya (niat tidak baik). Misal, jika saya memiliki uang banyak, akan saya borong ini dan itu. Jajan makanan ini dan itu. Beli perhiasan, beli asesoris dll. Terlebih jika diniati hanya untuk pamer kepada orang lain.

2. Ada kesempatan.
Kesempatan dalam artian peluangnya ada bahkan terbuka lebar (dibolehkan), misal saat berbuka puasa tadi. Atau juga, misalnya karena aturan dan sistemnya lemah, serta penegakan hukumnya tidak tegas. Hal ini memberi peluang terjadinya atau munculnya ketidaksabaran dan keserakahan.

3. Ada kemampuan.
Kemampuan dikaitkan dengan uang dan jabatan. Ada niat dan kesempatan tapi jika tidak memiliki kemampuan maka orang masih bisa tertahan kesabarannya, tidak jor-joran dan tidak serakah. Namun jika ada niat dan kesempatan ditambah mampu, maka disitu akan muncul yang disebut sebagai momentum keserakahan.

Jadi kesimpulannya, mari kita selalu bersyukur meski di saat kita tidak memiliki apa-apa. Karena masih banyak orang yang jauh lebih menderita hidupnya. Justru bersyukur harus diperbanyak, karena rasa sabar itu sudah pasti kita lakukan karena kahanan yang tidak mungkin untuk serakah. Jika kita sudah miskin dan juga tidak sabar (serakah) itu namanya kebangetan.

Sebaliknya, perkuat rasa sabar di saat kita diberi kemudahan, dan jalan lancar rezekinya (selain bersyukur). Di saat seperti itulah ujian kesabaran yang sesungguhnya agar kita bisa menahan diri, tidak hedonis, tidak egois, dan terutama tidak menjadi serakah. Godaan untuk itu kuat sekali karena kita mampu, plus misal ada kesempatan ditambah niat.

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB