Oleh: Mohamad Sinal
Dalam perjalanan hidup yang penuh kelelahan, Ramadan hadir bagai telaga di padang gersang. Menyejukkan dahaga rohani, menghapus debu-debu dosa, dan menyegarkan kembali jiwa yang lelah. Setiap ibadah adalah untaian cahaya yang menuntun manusia menuju jalan bahagia.
Ramadan bukan hanya ritual menahan lapar dan dahaga. Di dalamnya, juga mengajarkan ketakwaan, kesabaran, serta kecintaan kepada Sang Khalik dan sesama manusia. Oleh sebab itu, para ulama besar terdahulu, menjadikan Ramadan sebagi momentum penyucian diri.
Imam Abu Hanifa, mengibaratkan Ramadan sebagai bulan di mana kebiasaan duniawi diredam dan hawa nafsu dikekang. Dengan demikian, hati bisa lebih jernih dalam menangkap hikmah Ilahi. Baginya, puasa bukan sekadar kewajiban syariat, tetapi juga cara untuk melatih diri agar menjadi lebih bijak dalam bertindak.
Jadi, lapar dan dahaga di bulan Ramadan bukan hanya sekadar ketiadaan makanan. Hal tersebut merupakan wujud pengendalian diri agar tidak terjerumus dalam kesia-siaan. Merupakan bentuk refleksi diri agar hidup penuh dengan kemanfaatan.
Kemudian, Imam Malik menegaskan bahwa Ramadan adalah ladang amal yang subur. Siapa yang berpuasa dengan penuh kesungguhan, hatinya akan dihiasi cahaya keimanan. Ramadan adalah bulan di mana seorang mukmin dapat menghapus segala noda yang menghalangi hubungannya dengan Allah.
Oleh karena itu, Imam Malik sangat menganjurkan untuk memperbanyak shalat malam dan membaca Al-Qur’an. Dalam pandangannya, dua hal itulah yang dapat menghidupkan hati yang telah lama tertidur.
Imam Syafi’i pun memiliki pandangan yang demikian tentang Ramadan. Ramadan adalah waktu di mana seseorang bisa menelusuri hakikat kasih sayang. Beliau mengatakan bahwa puasa Ramadan mengajarkan manusia untuk memahami penderitaan orang-orang yang kurang beruntung. Sebuah latihan bagi hati agar lebih peka terhadap sesama.
Dengan berpuasa, seseorang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum. Ia juga dapat menahan segala bentuk keburukan yang bisa merusak nilai kemanusiaan. Dalam konteks ini, Ramadan menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan sifat belas kasih.
Sementara itu, Imam Ahmad bin Hanbal, menekankan bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk muhasabah. Merenungi perjalanan hidup dan sarana untuk memperbaiki diri. Ia percaya bahwa dalam lapar dan haus di bulan Ramadan, ada pelajaran berharga tentang ketergantungan manusia kepada Allah.
Baginya, Ramadan adalah bulan di mana seorang hamba diuji untuk mencapai puncak kesabaran dan ketakwaan. Ketika bulan ini berlalu, orang yang berpuasa diharapkan menjadi pribadi yang lebih kokoh dalam keimanan.
Keempat imam tersebut, meskipun memiliki perbedaan dalam beberapa aspek fiqih, namun sepakat bahwa Ramadan adalah momentum istimewa untuk kembali kepada fitrah. Ia adalah anugerah dari Allah yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Layaknya seorang musafir yang menemukan telaga di tengah padang pasir.
Ramadan harus dinikmati dengan penuh kesyukuran. Ramadan harus dijalani dengan penuh keikhlasan. Bukan hanya dalam bentuk menahan lapar, tetapi juga memperbanyak amal kebajikan.
Ramadan adalah bulan di mana langit terbuka lebih lebar untuk doa-doa yang lirih dipanjatkan. Malam-malamnya penuh dengan keagungan. Di mana Lailatul Qadar bersemayam di salah satu malam yang ada.