Perjalan ke atas berlanjut dan tibalah di langit ke tujuh. Di tingkatan ini Rasulullah melihat dan ketemu dengan Ibrahim AS, ayah dari banyak nabi-nabi. Setelah Rasulullah menyampaikan salam, Ibrahim AS merespon dengan respon yang sama seperti Adam AS di langit pertama: “Selamat datang Wahai anakku dan nabi yang soleh”.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah melihat Ibrahim ini duduk bersandar ke dinding Baitul Makmur (Kiblat penghuni langit). Mungkin ini korelasi kemuliaan beliau sebagai nabi yang telah meninggikan Ka’bah, Kiblat penghuni dunia.
Kisah pertemuan Rasulullah dengan para nabi ini menunjukkan realita kesatuan nubuwah (kenabian) dan risalah (ajaran). Bahwa para nabi dan Rasul itu tidak dibeda-bed akan (laa nufarriqu). Pertemuan ini juga memberikan penguatan bahwa kenabian dan kerasulan Muhammad tidak terpisahkan dari kenabian dan kerasulan para pendahulunya. Beliau adalah pelanjut dan hadir sebagai penutup kenabian (khatamun nabiyyin). Sekaligus menyimpulkan bahwa agama itu memang satu: “sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam”.
Ulama Islam menyampaikan bahwa posisi tingkatan pada nabi, dari tingkatan pertam, kedua dan hingga ketujuh, bukan penggambaran kemuliaan antara satu dan lainnya. Kita yakin pasti ada makna di balik dari itu. Tapi kita juga tidak bisa menyimpulkan jika itu adalah gambaran kemuliaan. Karena pastinya Isa AS harus di atas Idris dan Harun. Karena Isa adalah salah seorang dari nabi dengan posisi Ulul Azmi. Wallahu a’lam!
(Berlanjut…)
*Direktur Jamaica Muslim Center/Presiden Nusantara Foundation