opini

Kejahatan Terhadap Perempuan yang Terus Terjadi

Selasa, 21 Januari 2025 | 21:00 WIB
Arsip Foto - Siswa membawa poster kampanye penghentian perundungan di sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum 2 Ngembalrejo, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (30/11/2024). ( ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Dalam alunan kehidupan yang tak henti merangkai cerita, ada lembaran yang kelam, goresan yang dalam, dan luka yang tak terlihat mata. Ia tersembunyi di balik tirai diam, tersembunyi dalam pekik yang tak terdengar, menanti untuk dijadikan bahan renungan.

Femisida adalah sebuah kata yang menggenggam begitu banyak kesedihan, ketidakadilan, dan tragedi. Apa sebenarnya makna dari kata yang menggetarkan ini?

Femisida, dalam pengertian yang paling sederhana namun menyayat, adalah pembunuhan terhadap perempuan semata-mata karena ia seorang perempuan.

Ini bukan sekadar kematian fisik, melainkan penghancuran nilai, perampasan harga diri, dan penghinaan terhadap fitrah seorang perempuan. Ia bukan hanya tentang akhir dari kehidupan, tetapi simbol tentang bagaimana peradaban sering kali gagal melindungi yang seharusnya dimuliakan.

Ketika kita berbicara tentang femisida, kita tidak berbicara tentang sebuah insiden semata. Kita berbicara tentang ketidakadilan yang telah berakar dalam struktur masyarakat, tentang perempuan yang dibungkam oleh ketakutan, dan tentang sistem yang sering kali lebih berpihak pada pelaku daripada korban.

Femisida adalah jeritan sunyi dari jiwa-jiwa yang hilang dalam bayang-bayang patriarki dan kekerasan, sebuah tragedi yang mencerminkan wajah gelap dunia yang sering mengaku maju, tetapi gagal melindungi para penjaga kasih sayang.

Bukankah perempuan adalah jiwa peradaban? Bukankah mereka adalah penjaga kehidupan, yang dari rahimnya lahir para pelopor dan pemimpin? Lalu, mengapa kehadiran mereka sering kali menjadi sasaran kebencian?

Mengapa dunia ini, yang katanya penuh cinta dan pengertian, masih tega merampas mereka dari kehidupan dengan cara yang begitu keji?

Femisida bukan hanya soal angka atau statistik. Di balik setiap kasusnya, ada nama, ada wajah, ada cerita. Ada seorang ibu yang tak lagi bisa memeluk anak-anaknya.

Ada seorang gadis yang mimpinya terkubur bersama tubuhnya. Ada seorang istri yang janji sucinya berubah menjadi akhir tragis.

Femisida adalah kisah kehilangan yang terus-menerus menghantui, yang melukai bukan hanya korbannya, tetapi juga kemanusiaan kita semua.

Dalam Islam, kehidupan adalah amanah, dan setiap jiwa adalah suci. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا ۖ وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ
“Barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maidah: 32)

Ayat ini adalah sebuah pengingat yang menusuk hati: bahwa hidup adalah milik Allah, dan mencabutnya tanpa alasan yang benar adalah kejahatan terbesar terhadap ciptaan-Nya.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB