Oleh: Agung Wibawanto
Jokowi meski sudah pensiun dari jabatan politiknya sebagai presiden RI per 20 Oktober 2024 kemarin, nyatanya masih kerap melakukan kunjungan atau safari politik ke mana-mana. Bahkan saat pilkada 2024 secara terang-terangan masih terlibat dalam pergulatan politik nasional. Tidak mencari apa-apa? Tidak punya kepentingan apa-apa? Ah, naif sekali.
Jokowi, melalui orang dekatnya, diketahui merasa tidak puas dengan hasil Pilkada serentak kemarin. Meski bisa memenangkan di Jateng dan Jabar serta Jatim juga Sumut yang dianggap sebagai representasi daerah strategis dalam 'pertempurannya' dengan PDIP. Bagi Jokowi pilkada adalah harga diri yang gak bisa ditawar harus dimenangkan semua, setidaknya mayoritas.
Maka tidak tanggung-tanggung dan tidak canggung, Jokowi terang-terangan meng-endorse setiap calon kepala daerah, harapannya agar dilihat rakyat pro Jokowi kemudian memilih mereka. Jokowi bertaruh kekuatannya masih ada, ditambah dengan koalisi KIM plus serta parcok, pasti menang. Harapannya. Sayang sekali kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
PDIP bukan terpuruk malah berhasil menambah kemenangan untuk pilkada propinsi bahkan nyaris 200%. Daerah-daerah yang dimenangkan PDIP dikhawatirkan tidak bisa dikuasai oleh Pemerintah Pusat yang dipegang Prabowo-Jokowi dan Koalisi KIM Plus. Jika begitu, akan sulit mengambil proyek-proyek strategis di daerah tersebut. Bagaimana ini ceritanya?
Dikatakan, Jokowi sangat kecewa, sebagai contoh sederhana saja, bagaimana di Jakarta jagonya Jokowi, Ridwan Kamil, bisa kalah? Padahal kurang apa dukungan buat RK? Ini yang membuat Jokowi kecewa sekaligus marah. Jokowi menganggap partai KIM plus tidak terlalu serius dan tidak lagi mau mendengarkannya. Namun, Jokowi masih berharap dari menteri-menteri di kabinet Merah Putih.
Sebagian menteri merupakan atas pengaruh dari Jokowi. Jokowi merekomendasi nama lalu disetujui Prabowo (Wapres Gibran tidak perlu dibahas, karena tidak punya peran dianggap masih anak kecil). Menteri-menteri itulah yang kelak diharapkan Jokowi bisa membantu 'keleluasaannya' dalam turut mengelola negara terutama proyek-proyek super mega.
Salah satu ambisi Jokowi adalah menyelesaikan IKN. Dikabarkan, jika bisa menyelesaikan IKN lalu berpindah kekuasaan di sana, maka dipastikan aman untuk ke depannya. Karena di sana disinyalir akan banyak proyek baru terkait hasil bumi tambang dan minyak. Selain itu, IKN juga punya nilai prestisius sebagai legacy yang ditinggalkan Jokowi. Ini pertaruhan juga.
Jika mundur apalagi mangkrak, IKN bisa menjadi isu memojokkan Jokowi yang tidak berkesudahan. Jelas harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya. Untuk itu Jokowi sampai lari sana lari sini menawarkan agar investor bisa masuk ke IKN (bahkan saat masih menjabat presiden). Salah satu pihak yang ia pegang ekornya adalah Aguan, salah satu anggota dari 9 Naga.
Jokowi merasa sudah membantu dan memberi karpet merah kepada Aguan untuk proyek PIK dan pengembangannya. Sebagai imbal baliknya, Aguan cs diminta untuk menanam saham di IKN, meski 9 naga ragu dan tidak tertarik sama sekali. Aguan sampai harus mengatakan bahwa ia hanya menjaga muka Jokowi dalam proyek IKN tersebut. Itu dari jalur ekonominya.
(bersambung...)