Sistem pembagian kelompok yang diikuti dengan permainan berbasis pendidikan tidak hanya memotivasi siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi, tetapi juga melibatkan siswa yang cenderung pasif untuk berpartisipasi.
Kreativitas Fauzi Rohmat, Nessa Sri Neda, dan Siti Ajijah terlihat dalam pengelolaan permainan yang tetap selaras dengan tujuan pembelajaran.
Mereka mampu menyelaraskan materi kurikulum dengan aktivitas permainan, sehingga setiap tahap pembelajaran tetap memiliki nilai edukasi yang signifikan.
Selain itu, pendekatan ini menunjukkan kemampuan mereka dalam memadukan teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik nyata di lapangan.
Metode TGT juga sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi, dan keterampilan abad ke-21.
Dengan mempraktikkan metode ini, mahasiswa STAI Al-Azhary memberikan contoh konkret bagaimana guru di masa depan dapat mengintegrasikan pendekatan inovatif dalam pembelajaran yang lebih fleksibel dan berbasis kebutuhan siswa.
Nessa Sri Neda menyampaikan harapannya agar metode TGT tidak hanya diterapkan di jenjang sekolah dasar, tetapi juga di semua jenjang pendidikan lainnya, baik di tingkat menengah maupun atas.
Menurutnya, pendekatan ini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan keaktifan dan semangat siswa dalam pembelajaran, terlepas dari usia dan tingkatannya.