opini

Studi Gender dan Kelembagaan KOPRI PMII, Upaya Mewujudkan Kesetaraan dalam Gerakan Mahasiswa

Minggu, 6 Oktober 2024 | 05:00 WIB
Nurul Fajriyanti, kader PMII (Foto: Nurul for Journalnusantara.com)

Oleh: Nurul Fajriyanti

Studi gender telah menjadi topik yang semakin penting di berbagai ranah, termasuk dalam dunia pendidikan dan organisasi kemahasiswaan. Salah satu organisasi mahasiswa yang aktif di Indonesia dalam mengusung isu-isu kesetaraan gender adalah Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI PMII). Sebagai bagian integral dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), KOPRI PMII memainkan peran strategis dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan mendorong kesetaraan gender, terutama di kalangan mahasiswa.

Konsep Studi Gender
Studi gender merupakan kajian yang menelaah bagaimana peran, tanggung jawab, serta hak laki-laki dan perempuan dibentuk dan dipengaruhi oleh konstruksi sosial, budaya, agama, dan politik. Kajian ini tidak hanya berfokus pada perempuan, tetapi juga pada bagaimana sistem sosial menciptakan struktur ketidaksetaraan yang berdampak pada berbagai kelompok, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam konteks KOPRI PMII, studi gender menjadi dasar dalam memahami ketimpangan yang terjadi serta menjadi panduan dalam merumuskan strategi perjuangan.

Sejarah Singkat KOPRI PMII
KOPRI PMII berdiri pada 1967 sebagai sayap putri dari organisasi PMII. Tujuan utama pembentukan KOPRI adalah untuk menciptakan ruang bagi kader-kader perempuan agar lebih aktif terlibat dalam proses pengkaderan, pengembangan intelektual, serta advokasi isu-isu yang relevan dengan kepentingan perempuan. KOPRI memiliki peran vital dalam memastikan agar isu kesetaraan gender tetap menjadi bagian dari agenda besar PMII.

Gender dalam Kelembagaan KOPRI PMII
Dalam konteks kelembagaan, KOPRI PMII menempatkan kesetaraan gender sebagai salah satu agenda penting. Mereka berupaya untuk mendorong kader perempuan agar lebih aktif dalam struktur organisasi dan kepemimpinan.

Beberapa program yang sering diusung oleh KOPRI terkait dengan kesetaraan gender antara lain:

1. Pendidikan dan Pelatihan Gender
KOPRI PMII secara berkala menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang berfokus pada gender, baik di tingkat lokal maupun nasional. Pendidikan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kader tentang pentingnya kesetaraan gender dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi.

2. Advokasi Isu Gender
KOPRI juga aktif dalam mengadvokasi kebijakan yang berhubungan dengan hak-hak perempuan, termasuk isu-isu seperti kekerasan terhadap perempuan, kesenjangan upah, serta diskriminasi di tempat kerja dan dalam pendidikan.

3. Partisipasi dalam Kepemimpinan
Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh KOPRI PMII adalah mendorong lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam posisi kepemimpinan. Di banyak organisasi, perempuan sering kali mengalami hambatan untuk menduduki posisi strategis karena adanya stereotip gender dan struktur organisasi yang tidak inklusif. KOPRI berusaha membongkar hambatan-hambatan ini melalui pengkaderan yang menekankan pada pemberdayaan perempuan.

Tantangan dalam Implementasi Kesetaraan Gender di KOPRI
Meski sudah ada banyak upaya untuk mendorong kesetaraan gender di dalam tubuh KOPRI PMII, masih ada sejumlah tantangan yang dihadapi, di antaranya:

1. Kultur Patriarki
Seperti halnya organisasi lain yang beroperasi dalam konteks sosial-budaya Indonesia, KOPRI PMII juga menghadapi tantangan dari kultur patriarki yang masih kuat.

Dalam banyak kasus, peran dan posisi perempuan masih dibatasi oleh norma-norma sosial yang cenderung mengutamakan laki-laki dalam pengambilan keputusan dan kepemimpinan.

2. Keterbatasan Sumber Daya
Kurangnya sumber daya, baik dalam bentuk pendanaan maupun dukungan kelembagaan, menjadi salah satu kendala yang menghambat KOPRI dalam melaksanakan program-program yang berfokus pada pemberdayaan perempuan.

3. Internalisasi Isu Gender
Meski isu gender sudah sering dibahas, internalisasi kesadaran gender di kalangan anggota dan kader PMII, baik laki-laki maupun perempuan, masih menjadi pekerjaan rumah. Tidak semua anggota PMII memahami pentingnya kesetaraan gender sebagai fondasi keadilan sosial.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB